Layanan Pembuatan Website Dari Bringka Studio

BRINGKA STUDIO menyediakan website development services. yaitu jasa pembuatan website pribadi, sekolah, e commerce, perusahaan, organisasi atau yayasan, kampus dan pengembangan aplikasi internet yang ditujukan untuk berbagai kalangan.

WEBSITE PERSONAL BRINGKA Studio menyediakan layanan pembuatan website personal atau pribadi.

WEBSITE SEKOLAH BRINGKA Studio menyediakan layanan pembuatan website untuk sekolah.

WEBSITE E COMMERCE . BRINGKA Studio menyediakan layanan pembuatan website untuk toko online.

WEBSITE PERUSAHAAN BRINGKA Studio menyediakan layanan pembuatan website untuk perusahaan.

WEBSITE KAMPUS BRNGKA Studio menyediakan jasa pembuatan website untuk kampus, yang fitur didalamnya disesuaikan dengan kebutuhan kampus di indonesia.

WEBSITE CUSTOM BRINGKA Studio memberikan jasa pembuatan website custom, yaitu pembangunan website sesuai dengan apa yang anda inginkan.

Apabila anda membutuhkan jasa pembuatan website, anda bisa  kunjungi situs BRINGKA STUDIO dan silahkan order sesuai kebutuhan anda...

Investor Bahan Baku Peledak Inginkan Kemudahan Investasi dan Perijinan

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro (Tengah), General Manager Operation PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) Indra Prasetya (kiri), Direktur PT KNI Chrisna Deva (kiri dua) dan Direktur Utama PT KNI Antung Pandoyo (kanan dua) saat meresmikan pabrik amonium nitrat PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang, Kalimantan Timur, Jumat (15/6). Peresmian ini menandai mulai dioperasikannya pabrik AN terbesar di Indonesia dan memastikan kesiapan pabrik Amonium Nitrat (AN) yang memiliki kapasitas produksi Amonium Nitrat 300.000 MT/tahun untuk mendukung industri pertambangan Indonesia. Pabrik KNI yang merupakan salah satu industri strategis dibawah pengawasan Kementerian Pertahanan ini juga akan mengurangi ketergantungan akan impor Amonium Nitrat (AN) dan akan menghemat devisa negara.(Foto: inilah/andi Anwar)

16 Juni 2012, Jakarta: Pengusaha bahan baku peledak meminta sejumlah kemudahan untuk berinvestasi di sektor interview. Kementerian Pertahanan akan merivisi Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 22 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengaturan, pembinaan dan Pengembangan Badan usaha Peledak Komersial.

"Kami menerima banyak masukkan," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Bontang kepada Tempo, Jumat, 15 Juni 2012. Purnomo menerima sembilan pengusaha yang terkait bahan peledak dan lima importir. "Diantaranya kemudahan investasi dan perijinan."

Purnomo berjanji akan menindaklanjuti permintaan pengusaha ini. Pemerintah akan menyiapkan draft revisi peraturan ini. Namun Menteri Purnomo belum bisa memastikan kapan revisi ini akan dirampungkan. "Belum kami putuskan," kata dia.

Menteri Pertahanan sebelumnya mendorong badan usaha milik negara dan swasta untuk memproduksi bahan baku peledak atau ammonium nitrat. Permintaan ini disampaikan saat meresmikan PT Kaltim Nitrate Indonesia. Hingga saat ini hanya ada dua pabrik di dalam negeri yang memproduksi ammonium nitrat yaitu PT Multi Nitrotama Kimia dan PT Kaltim Nitrate Indonesia.

Saat ini Kementerian Pertahanan sedang mempelajari proposal pembangunan pabrik dari PT Batuta. Dia berharap, dengan semakin banyaknya produsen bahan baku peledak, ketergantungan impor bisa dikurangi. Dia berharap, pabrik yang beroperasi di Kalimantan Timur untuk terus memperbesar kapasitas. Menurut Purnomo, ekspansi ini perlu dilakukan karena potensi pasokan gas di wilayah ini sangat tinggi.

Sumber: TEMPO

Investasi Industri Pertahanan Ditargetkan Rp100 Triliun

Presiden Direktur PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) Antung Pandoyo, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Faroek Ishak, saat peresmian pabrik Amonium Nitrat (AN) terbesar di Indonesia, di kawasan Kaltim Industrial Estate, Tursina, Bontang, Jumat (15/6/2012) pagi. Peresmian ini menandai mulai dioperasikannya pabrik AN terbesar di Indonesia dan memastikan kesiapan pabrik AN yang memiliki kapasitas produksi Amonium Nitrat 300.000 MT/tahun untuk mendukung industri pertambangan Indonesia. (Foto: okezone)

16 Juni 2012, Bontang: Pemerintah menargetkan nilai investasi industri pertahanan nasional bisa mencapai sekitar Rp100 triliun dalam waktu lima tahun. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pihaknya akan terus mendorong masuknya investasi di industri pertahanan, baik oleh swasta maupun badan usaha milik negara (BUMN).

Nilai investasi industri pertahanan tersebut terdiri atas berbagai macam sektor seperti alat utama sistem senjata (alutsista), pabrik peluru kendali (rudal), dan bahan peledak berkekuatan rendah atau amonium nitrat. Peningkatan investasi juga akan menaikkan devisa negara. Menurutnya, target tersebut bisa terpenuhi tidak hanya melalui pembangunan pabrik baru, tapi juga penambahan investasi serta kapasitas produksi.

Dia mencontohkan, pabrik amonium nitrat PT KNI yang senilai Rp4 triliun. ”Saat ini kapasitas produksinya 300.000 ton per tahun, sebelumnya hanya sekitar 120.000-150.000 ton per tahun,” kata Purnomo seusai peresmian pabrik amonium nitrat PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang, Kalimantan Timur,kemarin. Purnomo memperkirakan, kebutuhan amonium nitrat nasional terus meningkat menjadi 800.000 ton per tahun pada 2014-2015.

Saat ini kebutuhan amonium nitrat sekitar 600.000 ton per tahun. ”Ditambah produksi MNK (PT Multi Nitrotama Kimia) di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, produksi dalam negeri menjadi lebih besar,”ucapnya. Saat ini hanya ada dua pabrik amonium nitrat di dalam negeri yakni PT KNI dan PT MNK.Sebenarnya ada satu lagi perusahaan BUMN di Bontang yakni PT Dahana, namun hingga kini masih belum diketahui secara jelas soal investasinya.

Lebih lanjut Purnomo menjelaskan, saat ini investor lainnya yakni PT Batuta tengah menjajaki investasi pembangunan pabrik amonium nitrat di Bontang.Dia mengaku sudah menerima proposal rencana investasi PT Batuta. Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak menambahkan, pihaknya mendukung investor di Bontang dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif, keamanan berinvestasi, menjamin kepastian hukum, serta mempermudah perizinan.

Awang mengungkapkan, Bontang menempati urutan kelima dari 33 provinsi terkait penanaman modal asing (PMA), nomor tiga untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN), dan masuk dalam 10 besar regional champion investasi. Dia menyebutkan, realisasi investasi di Bontang tahun lalu mencapai Rp38 triliun, melampaui target awal Rp32 triliun.” Tahun ini kami targetkan Rp42 triliun.Termasuk industri batubara. Dua blok migas sedang dikembangkan,”ucapnya.

Direktur Utama PT KNI Antung Pandoyo optimistis, perusahaan yang dia pimpin bakal menjadi produsen amonium nitrat terbesar di Indonesia, bahkan mungkin Asia Tenggara. PT KNI akan berperan penting sebagai aset nasional untuk melayani industri pertambangan di dalam negeri. Pembangunan pabrik tersebut juga akan menghemat devisa negara hingga USD150 juta. ”USD150 juta asumsinya harga USD500 per ton. Itu dikali 300.000 ton. Kalau harga USD600, akan lebih besar,”tandasnya.

Sumber: SINDO

KRI Nanggala Tembakkan Torpedo SUT Kepala Latihan


14 Juni 2012, Bawean: KRI Nanggala-402 berhasil meluncurkan Torpedo SUT Kepala Latihan, dalam uji coba penembakkan di sekitar perairan Pulau Bawean Gresik, Kamis (14/06). Penembakan Torpedo oleh KRI Nanggala dilaksanakan pada dini hari sekitar pukul 04.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), pada posisi 06 03 335 S – 112 38 18 T sebelah Selatan Pulau Bawean, dengan jarak kurang lebih 3 Nautical Mile menuju sasaran.

Target senjata pamungkas kapal selam itu merupakan sebuah simulator yang dapat menimbulkan suara menyerupai baling-baling kapal (Propeler) berupa Noise Maker. Torpedo Kepala Latihan, berhasil meluncur dari KRI Nanggala hingga kurang lebih berjarak 1 Nautical Mile.

Peluru Kendali (Rudal) bawah air itu melesat dari tabung Torpedo KRI Nanggala dengan kecepatan Medium 23 Knot, selanjutnya mencari tracking sasaran hingga beberapa saat kemudian Torpedo itu berhenti dan mengapung diatas permukaan air.

Sebuah kendaraan air cepat berupa Sea Rider milik Satuan Komando Pasukan Katak yang bertugas mengikuti jejak Torpedo tersebut langsung memburu isyarat lampu yang menandakan keberadaan senjata setelah berhasil ditembakkan. Satu tim Kopaska yang berada di Sea Rider mengikuti luncuran Torpedo Kepala Latihan itu hingga beberapa saat hingga berhenti dan mengapung diatas air.

Uji coba ini merupakan pertama kalinya setelah KRI Nanggala mengalami perbaikan total (Overhaul) selama kurang lebih dua tahun di Korea Selatan beberapa bulan yang lalu. Setelah Overhaul KRI Nanggala mengalami perbaikan dan moderenisasi beberapa sistim dan persenjataan, diantaranya adalah sistim kontrol penembakan (Fire Control) Combat Management Sistem (CMS) type Multi Sensor Integrited (MSI) 90U MK2, menggantikan CMS lama tipe Sinbads.


Tujuan uji coba ini dilaksanakan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan kerja dan sinkronisasi antara sistem CMS MSI yang baru terpasang dengan senjata Torpedo SUT buatan Kongsberg Defence and Aerospace Norwegia tersebut.

Dengan berhasilnya penembakan Torpedo SUT kepala latihan ini menandakan bahwa sistem kendali senjata yang baru CMS MSI 90U MK2 yang terpasang di KRI Nanggala dapat bekerja secara optimal”, kata Dansatsel Koarmatim Kolonel Laut (P) Jefry Stanley Sangel. SH.

Selesai uji coba penembakan, Torpedo Kepala Latihan di evakuasi menggunakan dua buah perahu karet (PK) oleh tim Penyelam TNI AL dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmatim.

Selanjutnya Torpedo SUT yang berhasil ditembakkan itu dinaikkan ke atas geladak KRI Soputan-923 untuk selanjutnya dibawa kembali ke gudang senjata TNI AL (ARSENAL) Batu Poron, Bangkalan, Madura.

Satuan Tugas (Satgas) penembakan Torpedo Kepala Latihan ini melibatkan beberapa unsur pedukung sebagai pengamanan area latihan yaitu KRI Sultan Iskandar Muda-367, KRI Hiu-804, 2 Sea Rider, 2 (PK). Sedangkan personel yang terlibat adalah 1 tim Kopaska Koarmatim, Dislambair Koarmatim, Laboratorium Induk Elektronika (Labinlek) Mabesal, Arsenal serta Diskes Koarmatim.

Sumber: Dispenarmatim

Prajurit Yonif 501 Latihan Penerjunan


15 Mei 2012, Situbondo: . Sejumlah personil Batalyon Infanteri (Yonif) 501 Kostrad melakukan penerjunan di Pusat Latihan Tempur Awar-Awar, Kedunglo, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (15/6). Penerjunan 684 prajurit lintas udara itu untuk melatih dan mengasah kemampuan tempur para prajurit TNI AD tersebut. (Foto: ANTARA/Seno S./Koz/12)

Kobangdikal Luluskan 30 Pasukan Elit TNI AL


14 Juni 2012, Surabaya: Pasukan elit TNI AL bertambah 30 orang, hal tersebut setelah Wakil Komandan Komando Pendidikan Marinir (Wadan Kodikmar) Komando Pengembangan dan Pendididkan Angkatan Laut (Kobangdikal) Kolonel Marinir Lasmono menutup Pendidikan Intai Amfibi (Diktaifib) Angkatan ke-38 di lapangan apel Kodikmar Gunungsari, Surabaya,Kamis, (14/6).

Pendidikan Komando yang berada di bawah Sekolah Khusus (Sesus) Pusat Pendidikan Infantri Marinir Kobangdikal tersebut, diikuti 30 siswa dan berhasil menyelesaikan pendidikan selama delapan bulan.

Dari 36 prajurit yang mengikuti pendidikan Diktaifib, hanya 30 orang yang lulus dan memenuhi kualifikasi yang ditentukan, sementara itu enam prajurit lainnya dikembalikan ke satuan asal karena tidak lulus dalam mengikuti program pendidikan pasukan elit TNI AL yang terkenal tanpa kompromi tersebut.

Menurut Komandan Kodikmar Kolonel Marinir Hasanuddin dalam amanatnya yang dibacakan Wadan Kodikmar Kolonel Marinir Lasmono mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya pendidikan intai amfibi ini adalah untuk menyiapkan prajurit taifib Marinir sebagai prajurit pilihan yang dapat melaksanakan tugas pengintaian dan penyelidikan dalam Operasi Amfibi dan operasi-operasi lain, baik secara perorangan maupun tim.

Keberhasilan dalam menempuh pendidikan, lanjutnya hendaklah menjadi pendorong untuk membangkitkan semangat kerja, dan pengabdian kepada bangsa dan negara, khususnya Korps Marinir dan TNI AL. ”Dalam menghadapi tantangan tugas yang semakin berat dan kompleks kedepan, diperlukan prajurit-prajurit mandiri dan memiliki kemampuan handal, mobilitas tinggi dan profesionalisme,” terang pamen melati tiga di pundak tersebut.

Peningkatan profesionalisme bagi prajurit, tambahnya, berarti seorang prajurit harus fokus terhadap peningkatan kualitas diri yang meliputi keberanian, kemampuan intelektual dengan ditunjang kualitas moral yang baik, yakni prajurit yang memiliki etos kerja yang tinggi, yang selalu mempunyai keinginan untuk maju dan selalu bekerja keras untuk kepentingan TNI, Negara dan Bangsa serta dilandasi iman dan taqwa. Setelah pelaksanaan upacara, dilanjutkan dengan foto bersama dan acara ramah tamah.

Selanjutnya mantan siswa Diktaifib Angk. XXXVIII TA. 2011 dikembalikan ke satuan asal, guna menunggu penempatan oleh Disminpers Kormar ke satuan baru yaitu Batalyon Taifib -1 Marinir Surabaya dan Batalyon Taifib -2 Marinir di Jakarta. Bagi prajurit merupakan fokus utama, yaitu prajurit TNI AL yang memiliki keberanian, kemampuan intelektual dengan ditunjang kualitas moral yang baik, yakni prajurit yang memiliki etos kerja yang tinggi, yang selalu mempunyai keinginan untuk maju dan selalu bekerja keras untuk kepentingan TNI, Negara dan Bangsa, yang didasari dengan iman dan taqwa.

Sumber: Kobangdikal

Pussenarhanud dan PT DI Tandatangani Kontrak Rancang Bangun "Target Data Receiver" Sista Rudal Grom

Meriam anti-serangan udara Mer 23 mm Zur. (Foto: Pussenarhanud)

13 Juni 2012, Cimahi: Penanda tanganan kontrak rancang bangun TDR (Target Data Receiver) bersama PT DI bertempat di Sdirbinlitbang Pussenarhanud pada tanggal 13 Juni 2012 di tanda tangani oleh Dirbinlitbang Pussenarhanud Kol Arh Dedi Sholihin sebagai wakil dari Pussenarhanud dengan Direktur Teknik dan Pengembangan PT DI, Dita Ardonni Jafri, target akhir TA 2012 sudah tergelar TDR (Target Data Receiver) yang akan digabungkan dengan Mer 23 mm Zur composit Rudal Grom. TDR ini akan membantu dalam pendeteksi pesawat musuh dan data tersebut akan dikirimkan ke Satuan Tembak (Satbak).

Pengendalian tempur oleh Battery Command and Control Vehicle (BCCV) terhadap pucuk-pucuk Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom menggunakan kabel sepanjang 200 m, sehingga hal ini mempengaruhi daerah gelar dalam rangka melaksanakan pertahanan udara terhadap obyek yang dilindungi. Apabila pengendalian tempur dalam bentuk koneksi data dan komunikasi tersebut tidak menggunakan kabel (wireless), maka selain diperoleh penggelaran meriam yang lebih luas, juga dapat berperannya setiap pucuk Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom sebagai Satbak. Dengan demikian, konfigurasi Detasemen dapat dikembangkan menjadi 1 Radar, 2 BCCV, 4 Satbak Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom dan 4 Satbak Rudal Poprad. Konfigurasi seperti ini diharapkan akan memperluas daerah pertahanan udara (coverage area) dan secara taktis, diperoleh kepadatan penyerangan sasaran sehingga efektivitas pertahanan udara semakin optimal.

Berawal dari pemikiran tersebut diatas, maka pada TA 2010, Pussenarhanud Kodiklat TNI AD telah melaksanakan program Litbang yaitu Rancang Bangun Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom. Pada pelaksanaan program Litbang TA 2010, telah diperoleh tujuan dan sasaran yang diinginkan yaitu terwujudnya suatu peralatan TDR untuk pengendalian tempur meriam 23 mm/Zur, yang bertindak sebagai satuan tembak. Dari hasil evaluasi program, diperoleh beberapa hal perlu pengembangan program lebih lanjut demi kesinambungannya program Litbanghan. Hal-hal yang perlu dikembangkan dari pencapaian program Litbanghan TA 2010 antara lain perubahan bentuk dan ukuran serta kemampuan laptop sehingga lebih mudah dalam penggunaannya di lapangan.

Selain itu karakteristik dan kemampuan radio perlu ditingkatkan untuk menjangkau jarak penyaluran data sasaran. Pengembangan komponen laptop dan radio pada proposal kegiatan program ini selain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan unit TDR, juga mempertimbangkan kesesuaian operasional unit TDR ini di lapangan. Untuk menjamin berkelanjutannya program Litbanghan Pussenarhanud, maka perlu diajukan program Litbang untuk mengembangkan program Rancang Bangun Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom sebagai program pengembangan untuk program kerja dan anggaran TA 2012. Melalui pengembangan sistem dan metode, diharapkan kesinambungan program Litbang ini dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan Alut Sista Rudal Grom.

Laptop yang ada pada TDR Sista Rudal Grom hasil program Litbang TA 2010 walaupun memiliki kriteria semi rugged laptop, namun masih kurang portable, sehingga akan menyulitkan awak meriam untuk mengoperasikannya di lapangan. Pengembangan ukuran dan jenis laptop yang lebih bersifat portable dan memiliki GPS built-in, selain akan memudahkan operasional awak meriam, juga akan meningkatkan efisiensi penggelarannya.

Radio yang ada pada TDR Sista Rudal Grom hasil program Litbang TA 2010 merupakan radio komersial sehingga tidak memiliki kemampuan anti jamming terhadap gangguan transmisi data pada saat operasional. Pengembangan kriteria radio menjadi milspec radio dan berjenis manpack selain akan memudahkan operasional awak meriam dan meningkatkan kemampuan jarak jangkau transmisi data sasaran, juga akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggelarannya.

Melalui pengembangan sistem dan peralatan pada model TDR, akan diperoleh model Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom yang memiliki kemampuan dan kesesuaian operasional yang tinggi. Dengan diperolehnya TDR yang handal, pucuk meriam 23 mm/Zur pada Sista Rudal Grom dapat berperan sebagai satuan tembak sehingga dapat digelar secara lebih fleksibel dengan jarak lebih jauh, dapat memperluas coverage area, serta secara taktis akan diperoleh kemungkinan menembak seawal mungkin demi terwujudnya efektivitas pertahanan udara.

Sumber: Pussenarhanud

PT DI Mendapatkan Kontrak Pembuatan Target Data Receiver Sistem Senjata Grom TNI AD


14 Juni 2012
 
Sistem senjata Grom milik TNI AD (photo : Kaskus Militer)

Penanda tanganan kontrak rancang bangun TDR (Target Data Receiver) bersama PT DI bertempat di Sdirbinlitbang Pussenarhanud pada tanggal 13 Juni 2012 di tanda tangani oleh Dirbinlitbang Pussenarhanud Kol Arh Dedi Sholihin sebagai wakil dari Pussenarhanud dengan Direktur Teknik dan Pengembangan PT DI, Dita Ardonni Jafri, target akhir TA 2012 sudah tergelar TDR (Target Data Receiver) yang akan digabungkan dengan Mer 23 mm Zur composit Rudal Grom. TDR ini akan membantu dalam pendeteksi pesawat musuh dan data tersebut akan dikirimkan ke Satuan Tembak (Satbak).

Pengendalian tempur oleh Battery Command and Control Vehicle (BCCV) terhadap pucuk-pucuk Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom menggunakan kabel sepanjang 200 m, sehingga hal ini mempengaruhi daerah gelar dalam rangka melaksanakan pertahanan udara terhadap obyek yang dilindungi. Apabila pengendalian tempur dalam bentuk koneksi data dan komunikasi tersebut tidak menggunakan kabel (wireless), maka selain diperoleh penggelaran meriam yang lebih luas, juga dapat berperannya setiap pucuk Meriam  23 mm/Zur hybrid Rudal Grom sebagai Satbak. Dengan demikian, konfigurasi Detasemen dapat dikembangkan menjadi 1 Radar, 2 BCCV, 4 Satbak Meriam 23 mm/Zur hybrid Rudal Grom dan 4 Satbak Rudal Poprad. Konfigurasi seperti ini diharapkan akan memperluas daerah pertahanan udara (coverage area) dan secara taktis, diperoleh kepadatan penyerangan sasaran sehingga efektivitas pertahanan udara semakin optimal.

 Berawal dari pemikiran tersebut diatas, maka pada TA 2010, Pussenarhanud Kodiklat TNI AD telah melaksanakan program Litbang yaitu Rancang Bangun Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom. Pada pelaksanaan program Litbang TA 2010, telah diperoleh tujuan dan sasaran yang diinginkan yaitu terwujudnya suatu peralatan TDR untuk pengendalian tempur meriam 23 mm/Zur, yang bertindak sebagai satuan tembak. Dari hasil evaluasi program, diperoleh beberapa hal perlu pengembangan program lebih lanjut demi kesinambungannya program Litbanghan. Hal-hal yang perlu dikembangkan dari pencapaian program Litbanghan TA 2010 antara lain perubahan bentuk dan ukuran serta kemampuan laptop sehingga lebih mudah dalam penggunaannya di lapangan. Selain itu karakteristik dan kemampuan radio perlu ditingkatkan untuk menjangkau jarak penyaluran data sasaran. Pengembangan komponen laptop dan radio pada proposal kegiatan program ini selain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan unit TDR, juga mempertimbangkan kesesuaian operasional unit TDR ini di lapangan.


Untuk menjamin berkelanjutannya program Litbanghan Pussenarhanud, maka perlu diajukan program Litbang untuk mengembangkan program Rancang Bangun Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom sebagai program pengembangan untuk program kerja dan anggaran TA 2012. Melalui pengembangan sistem dan metode, diharapkan kesinambungan program Litbang ini dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan Alut Sista Rudal Grom.

Laptop yang ada pada TDR Sista Rudal Grom hasil program Litbang TA 2010 walaupun memiliki kriteria semi rugged laptop, namun masih kurang portable, sehingga akan menyulitkan awak meriam untuk mengoperasikannya di lapangan. Pengembangan ukuran dan jenis laptop yang lebih bersifat portable dan memiliki GPS built-in, selain akan memudahkan operasional awak meriam, juga akan meningkatkan efisiensi penggelarannya.

Radio yang ada pada TDR Sista Rudal Grom hasil program Litbang TA 2010 merupakan radio komersial sehingga tidak memiliki kemampuan anti jamming terhadap gangguan transmisi data pada saat operasional. Pengembangan kriteria radio menjadi milspec radio dan berjenis manpack selain akan memudahkan operasional awak meriam dan meningkatkan kemampuan jarak jangkau transmisi data sasaran, juga akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggelarannya.

Melalui pengembangan sistem dan peralatan pada model TDR, akan diperoleh model Target Data Receiver (TDR) Sista Rudal Grom yang memiliki kemampuan dan kesesuaian operasional yang tinggi. Dengan diperolehnya TDR yang handal, pucuk meriam 23 mm/Zur pada Sista Rudal Grom dapat berperan sebagai satuan tembak sehingga dapat digelar secara lebih fleksibel dengan jarak lebih jauh, dapat memperluas coverage area, serta secara taktis akan diperoleh kemungkinan menembak seawal mungkin demi terwujudnya efektivitas pertahanan udara.

Kolej Tentera Udara Lahirkan Juruterbang Berkaliber

14 Juni 2012


Pesawat Pilatus PC-7 Mk II Tentara Udara Diraja Malaysia. Kolej Tentera Udara (KTU) saat ini mengoperasikan 36 buah pesawat Pilatus PC-7dan 8 buah pesawat Pilatus PC-7 Mk II buatan Pilatus Aircraft, Swizerland sebagai pesawat latih dasar dan juga mengoperasikan 20 pesawat MD3-160 Aerotiga buatan SME Aviation Sdn. Bhd., Malaysia hasil lisensi dari MDC Max Dätwyler AG, Jerman sebagai pesawat latih mula (photo : Airliners)

Pemeriksaan rapi ke atas pesawat cukup diberi penelitian bagi mengelakkan sebarang masalah teknikal.

USAHA melahirkan juruterbang berkualiti termasuk tahan lasak dari segi fizikal dan mental, berketrampilan serta bersemangat juang tinggi bukan mudah apatah lagi dalam persekitaran yang mencabar pada hari ini.

Tidak dinafikan ramai lebih cenderung menerbangkan pesawat komersial yang menjanjikan pendapatan lebih lumayan berbanding menyarung uniform Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) untuk berada di barisan hadapan mempertahankan negara.

Usaha melahirkan juruterbang berkaliber untuk mengawasi ruang udara Malaysia telah lama digalas Kolej Tentera Udara (KTU) sejak awal penubuhannya pada 1963.

Sehingga kini, KTU masih diberikan peranan untuk melatih dan melahirkan juruterbang yang mencukupi bagi memenuhi keperluan operasi mengikut kehendak TUDM.

Dalam usaha menjayakan misi itu, KTU di Kepala Batas yang terletak kira-kira 12 kilometer dari Alor Setar dengan berkeluasan 65 hektar persegi menempatkan semua unit latihan di satu tempat yang sesuai dengan suasana latihan dan mempunyai kelengkapan serta kemudahan mencukupi.

Secara amnya, KTU adalah institusi latihan untuk melatih pegawai tentera hasil kerjasama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) bagi graduan berkelulusan diploma.

Namun tahun ini sangat bersejarah apabila graduan di peringkat ijazah yang berkelayakan dari Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM) di Sungai Besi, Kuala Lumpur akan ditawarkan untuk menjalani latihan di KTU.

Program berkembar dengan universiti tempatan itu sejajar dengan usaha TUDM untuk memantapkan profesionalisme juruterbang dengan melahirkan juruterbang yang berkemahiran.

Apatah lagi dengan tahap profesionalisme bidang ketenteraan yang meningkat dan mementingkan pencapaian akademik, adalah penting untuk memastikan pasukan tentera hebat dalam bidang taktikal serta strategi ketenteraan.

Di KTU, TUDM menggariskan misi utamanya untuk mengeluarkan pegawai dan krew udara yang dipupuk dengan sikap yang positif, dibekalkan dengan ilmu pengetahuan dan kemahiran asas bagi melaksanakan tugas serta tanggungjawab melalui penggunaan modul atau pelaksanaan kurikulum yang bersesuaian.

Sejak awal kelahirannya, KTU mengalami beberapa perubahan termasuk konsep pemusatan beberapa unit latihan seperti Pusat Latihan Pegawai (PLP), Pusat Latihan Terbang 1 (Pulatibang 1) dan Pusat Latihan Terbang 2 (Pulatibang 2) di lokasi sama sejajar dengan matlamat TUDM menjadikan KTU sebaga pusat pengajian aeroangkasa.

Setiap pelatih yang juga merupakan pegawai kadet perlu menjalani latihan selama tiga tahun di KTU bagi melayakkan mereka menerima sayap penerbangan bagi latihan Kursus Asas Penerbangan di Pulatibang 1 dan Helikopter di Pulatibang 2.

Dalam tempoh tersebut, bagi menyesuaikan diri dengan kehidupan ketenteraan para pelatih terlebih dahulu menjalani latihan ketenteraan mengikut jadual ditetapkan.

Dalam fasa itu, mereka dilatih membina ketahanan mental dan didedahkan kepada pengetahuan asas ketenteraan sebagai persediaan sebelum menjalani latihan penerbangan di KTU.

Menurut Pegawai Pemerintah Pulatibang 1, Leftenan Kolonel Ghazali Yayah, KTU tidak akan berkompromi dengan kualiti dalam usaha melahirkan juruterbang yang berkaliber.

"Kita berharap dapat melahirkan juruterbang angkatan tentera yang mantap dan tinggi semangat juang di mana apabila mereka menggalas tugas di barisan hadapan pertahanan negara ia dilakukan dengan penuh patriotik dan tanpa rasa gentar.

"Oleh demikian selain penerapan ilmu penerbangan, kemahiran dalam mengoptimumkan pengunaan aset latihan dalam penerbangan, pelatih juga dididik dengan jati diri yang tinggi," katanya.

Katanya, pelatih yang diterima masuk ke KTU terlebih dahulu akan menerima latihan di PLP sebelum diserapkan untuk menjalani latihan penerbangan di Pulatibang 1 dan Pulatibang 2 selama 18 bulan.

Pesawat MD3-160 Aerotiga buatan SME Aviation Sdn. Bhd., Malaysia (photo : Janner88)

Tambah beliau, visi Pulatibang 1 di KTU antaranya untuk menjadi pusat latihan penerbangan terunggul di rantau Asia apabila mampu melahirkan juruterbang berkaliber sehingga mencapai tahap profesionalisme tinggi.

"Modul pembelajaran dan kokurikulum di Pulatibang 1 antaranya memerlukan setiap pelatih menguasai bidang akademik dan ketenteraan kerana mereka bakal menerbangkan sebuah pesawat pejuang untuk mempertahankan negara.

"Hanya pelatih yang kental dan mantap ilmunya akan melepasi fasa itu seterusnya menerima sayap penerbangan masing-masing," jelasnya.

Selain latihan ketenteraan dan pembelajaran di kelas dalam usaha memahami selok belok mengendalikan pesawat, Ghazali berkata, pelatih juga perlu mengambil kursus lanjutan membabitkan praktikal menerbangkan pesawat menggunakan Pilatus PC-7.

"Jumlah jam penerbangan yang ditetapkan adalah sekurang-kurangnya 160 jam secara solo atau bersama jurulatih.


"Penggunaan aset-aset latihan di Pulatibang penting dalam melahirkan juruterbang yang berkualiti," ujarnya.

Pada ketika ini terdapat kira-kira 100 pelatih yang menjalani latihan di Pulatibang 1 dengan 27 jurulatih yang berpengalaman.

Sementara itu Pulatibang 2 yang beroperasi di KTU sejak 1995 pula menjalankan kursus penerbangan asas helikopter dan kursus ilmu penerbangan asas bagi kuartermaster udara dan pramugari TUDM.

Menurut Pegawai Pemerintah Pulatibang 2, Leftenan Kolonel Ramli Mohd. Abd. Jabar, peranan yang dimainkan oleh juruterbang terbabit dalam pasukan TUDM tidak kurang pentingnya.

"Usaha KTU adalah untuk melahirkan juruterbang helikopter dan kuartermaster atau pramugari yang berpengetahuan serta memiliki kemahiran tinggi, berdisiplin termasuklah berakhlak terpuji.

"Pelatih juga akan menjalani latihan penerbangan selama 86 jam bagi melayakkan mereka memperoleh sayap penerbangan," katanya.

Menurut Ramli, teknologi dalam bidang penerbangan turut berubah mengikut peredaran masa, namun pelatih di KTU dilatih dengan kemahiran tinggi agar mereka mampu mengemudi apa juga pesawat yang ditugaskan setelah berkhidmat dengan TUDM kelak.

Tambah Ramli, selain melatih pegawai kadet untuk TUDM, KTU juga memberi latihan asas tersebut kepada pasukan ATM lain dan agensi kerajaan.

F-16 Hibah AS Ditempatkan di Madiun


12 Juni 2012, Makassar: Komando Operasi Angkatan Udara wilayah II (Koopsau-II) akan menambah pesawat tempur tipe F-16 sebanyak 24 buah dari Amerika, dan tambahan berupa pesawat Super Tucano dari Brazil sebanyak 2 unit.

Kedua tipe pesawat tempur tersebut adalah bantuan dari Kementerian Pertahanan RI. Marsekal Pertama Agus Supriana, yang akan dilantik sebagai Panglima Koopsau II mengantikan Marsekal Muda TNI Ismono Wijayanto, Selasa (12/6), di Makassar, mengatakan bantuan unit pesawat tempur dari Kementerian Pertahanan sangat membatu dalam penjagaan batas negara kesatuan Republik Indonesia.

“Nantinya ke-24 pesawat F-16 tersebut, akan bermarkas di Madiun dan pesawat Super Tucano akan bermarkas di Jawa timur. Rencananya pesawat yang didatangkan akhir tahun ini, akan berkeliling ke seluruh wilayah Koopsau II yang berjumlah 21 pangkalan udara,” kata Agus.

Sumber: Infopublik

Kemhan Jajaki Kerjasama Produksi Alutsista dengan Belarusia


2 Juni 2012, Jakarta: Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Senin (12/6) menerima Menteri Luar Negeri Republik Belarus, Sergei Martynov di Kantor Kementerian Pertahanan RI. Maksud dari kunjungan Menlu Belarus adalah selain untuk meningkatkan hubungan diplomatik kedua negara dan membuka peluang kerjasama strategis di bidang pertahanan. Kerjasama pertahanan ini lebih mengarah kepada produksi bersama Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dengan dasar Transfer of Technology (ToT).

Sumber: DMC

Tiga Bell-412 Perkuat Puspenerbal

13 Juni 2012, Surabaya: Tiga helikopter baru Bell-412 EP buatan Kanada tiba di Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Surabaya, Rabu. Mereka memperkuat Skuadron Udara 400 Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal).

Upacara penyerahan tiga unit helikopter itu dipimpin Komandan Puspenerbal, Laksamana Pertama TNI Sugianto, di Apron Shelter Skuadron Udara 400, di pangkalan udara itu.

Kedatangan tiga helikopter tersebut molor sehari dari jadwal, karena terkendala cuaca buruk di Bandung saat akan diterbangkan ke Surabaya, Selasa (12/6). Begitu selesai upacara serah-terima, ketiga helikopter itu langsung didemonstrasikan kehandalannya.

Sebelum diserahkan kepada TNI AL, ketiga helikopter tersebut lebih dulu menjalani penyempurnaan di PT Dirgantara Indonesia Bandung, terutama disesuaikan dengan kepentingan pesawat militer dan desain khusus matra laut.

"Ketiga helikopter ini akan difungsikan sebagai pesawat angkut taktis dan dukungan logistik cepat," kata Sugianto.

Menurut ia, helikopter jenis Bell-412 EP sudah tidak asing lagi bagi penerbang TNI AL, karena sebelumnya mereka juga sudah mengoperasikan helikopter serupa dan juga jenis Bell-212.

Bell-412 series memiliki mesin lebih kuat ketimbang Bell-212 series. Secara kasat mata, lubang "knalpot" mesinnya ada dua sementara Bell-212 series cuma satu dan bilah baling-baling utamanya ada empat lembar.

Dengan begitu, bobot beban yang bisa diangkut bisa lebih berat dengan durasi terbang lebih lama sekaligus lebih jauh. Yang pokok juga, kemampuan manuverabilitasnya lebih baik ketimbang seri sebelumnya, termasuk lepas-landas dan mendarat di pijakan bergerak dan sempit seumpama di dek kapal perang.

Setelah upacara penyerahan, ketiga helikopter baru itu langsung digunakan untuk latihan pendaratan pasukan di Lanudal Juanda.

Sumber: ANTARA News

Kasau Tinjau Hanggar Super Tucano

Menara kontrol Lanud Abdurrahman Saleh. (Foto: Berita HanKam)

13 Juni 2012, Malang: Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Imam Sufaat, S. IP didampingi Aslog Kasau, dan pejabat lainnya serta Ketua Umum PIA Ardhya Garini Pusat, Maya Imam Sufa’at beserta rombongan, meninjau Hanggar Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abd Saleh. Kedatangan Kasau beserta rombongan disambut langsung oleh Komandan Lanud Abd Saleh Marsma TNI Gutomo, S.IP. Panglima Divisi 2 Kostrad, Bupati Malang, Jajaran Muspida Malang Raya serta para pejabat Lanud beserta Insub di VIP Room Lanud Abd Saleh.

Selanjutnya Kasau beserta rombongan langsung menuju ruang serbaguna Skadron Udara 21 untuk menerima paparan tentang pembangunan hanggar Super Tucano yang hampir selesai dan siap untuk ditempati pesawat Super Tucano.

Dalam pengarahan Kasau terhadap para Perwira Lanud Abd Saleh dan anggota Skadron Udara 21, menjelaskan bahwa kedatangan beliau ke Skadron Udara 21 ini adalah untuk melihat kesiapan Skadron Udara 21 dalam rangka kedatangan pesawat Super Tucano pada bulan Agustus mendatang.

Dijelaskan Kasau bahwa proses pengadaan pesawat pengganti pesawat Ovitten sangat rumit dan panjang karena banyak pilihan pesawat yang ditawarkan. Namun akhirnya setelah melalui berbagai proses dan perencanaan yang matang maka dipilihlah pesawat Super Tucano untuk menggantikan pesawat ovitten milik Skadron Udara 21.

Yang lebih penting anggota yang menangani Super Tucano untuk memperhatikan tingkat keamanan dan keselamatan terbang dan kerja dimanapun kalian berada, bangun kerjasama yang baik dalam rangka keberhasilan tugas-tugas selanjutnya, dan senantiasa meningkatkan disiplin personel dan hindari kesalahan sekecil apapun sehingga akan terciptanya zero accident.

Rencananya anggota Skadron Udara 21 dan anggota Skatek 022 yang akan mengikuti pendidikan di Brazil sebanyak 36 orang dan dilaksanakan selama 10 hari,  selanjutnya pendidikan akan dilakukan secara bertahap.

Menengok kekuatan TNI AU di Lanud Abdulrahman Saleh

Pangkalan Udara Abdulrahman Saleh, Malang, adalah markas TNI Angkatan Udara yang bertugas membantu mengamankan, serta memelihara wilayah Indonesia bagian timur. Lanud Abdulrahman Saleh memiliki tiga skuadron. skuadron udara 21, skuadron teknik 22, dan skuadron pemeliharaan 32.

Ketika 31 wartawan online, elektronik, dan cetak mengunjungi markas di bawah komando Marsekal Pertama TNI Hutomo itu, Lanud A Saleh terus melakukan perbaikan dan pengadaan pesawat tempur.

Tercatat pada tahun 2012, TNI AU menargetkan delapan pesawat tempur Super Tucano buatan Brazil untuk menggantikan 2 unit OV-10F Bronco yang sudah tidak dipakai sejak 2007 silam, dalam pengamanan udara wilayah timur.

"Rencananya akhir Agustus atau awal September nanti 4 pesawat super Tucano akan tiba di sini (Lanud A Saleh)," kata Komandan Lanud A Saleh, Marsekal Pertama TNI Hutomo kepada wartawan di Malang, Rabu (30/5).

"Pengiriman bertahap, sehingga total tahun ini kita akan memiliki 8 pesawat tempur taktis Super Tucano," lanjutnya.

Menurut Hutomo, Super Tucano sangat cocok menggantikan Bronco, pesawat tempur taktis buatan Rockwell, Amerika. Sebab, Super Tucano memiliki kemampuan serang air-to-air dan air-to-ground. Skuadron 21, yang rencananya menjadi 'tempat tinggal' Super Tucano juga sedang mengalami perbaikan total.

Jika dulunya hanya memiliki 2 shelter pesawat tempur, kini Skuadron udara itu sedang membangun 6 shelter tambahan. Dan juga pembangunan sarana penunjang lainnya, seperti ruang simulator, ruang pengembangan teknologi, serta pengiriman 12 penerbang untuk menjalani training di Brazil (11/7).

Selain memiliki pesawat tempur taktis, Lanud Abdulrahman Shaleh juga menjadi pusat pemeliharaan dan perawatan pesawat setelah Bandung. Seperti pemeliharaan engine pesawat tempur Hawk, F-16, Sukhoi, Hercules, dan Cassa.

Di skuadron 22, menjadi pusat pemeliharaan pesawat untuk kerusakan ringan hingga sedang. Pantauan merdeka.com, di skuadron teknik itu, beberapa pesawat sedang menjalani perawatan serta perbaikan. Seperti pesawat Hercules dan pesawat navigasi. Komandan skuadron teknik 22, Letkol Rudolf  Boulolo mengatakan, perawatan ringan pesawat mencakup inspeksi seluruh komponen pesawat, pembersihan, hingga perbaikan. "Sedangkan perawatan sedang mencakup pemeriksaan kerusakan hingga pembongkaran," kata Rudolf kepada wartawan.

Tidak jauh berbeda dengan skuadron 22, skuadron 32 juga dikhususkan untuk menjadi pusat pemeliharaan pesawat. Namun skuadron 32 lebih difokuskan sebagai 'rumah' pesawat Hercules pendukung operasi udara. Seperti pengangkutan satuan tempur, barang kargo, hingga pengisian bahan bakar pesawat tempur di udara

 "Lanud Abdulrahman Saleh merupakan lanud yang memiliki pesawat pengisi bahan bakar, setelah Bandung," kata Komandan operasi udara skuadron 32, Letkol Penerbang M Arifin.

Sumber: Dispenau/Merdeka

US Military to Help Philippines Monitor Coastal Waters

13 Juni 2012

The US military said it plans to provide a land-based radar to the Philippines, to help track ships off the island nation's coast line (photo : Raytheon)

The US military has said it planned to help the Philippines monitor its coastal waters as Manila faces an escalating dispute with China over territorial claims.

The Pentagon revised earlier comments and said there was no firm plan to deliver a land-based radar to the Philippines, but that a radar could be part of future assistance.

"We are in the initial planning stages of assisting the Philippines with a National Coast Watch Center," Major Catherine Wilkinson told AFP.

The centre is designed "to create an overall picture of what is going on in the Philippines' territorial waters," she said.

"Right now we are discussing a range of options and no details have been finalised. Radars may be an eventual part of the package but it hasn't been determined yet."

The cost and the time line for the project were still being worked out, she said.

Kemhan Bantah Kapal Asing Merapat untuk Sumber Daya Alam

USNS Mercy (T-AH 19) berlabuh di Teluk Manado dalam rangka upacara pembukaan Pacific Partnership 2012 di Indonesia pada awal bulan ini. (Foto: Camelia Montoy)

13 Juni 2012, Jakarta: Kementerian Pertahanan membantah kabar mengenai adanya upaya pengamanan blok-blok sumber daya alam terkait kedatangan kapal-kapal asing di Indonesia. Kepala Pusat Komunikasi Publik Brigjend Hartind Asrin mengungkapkan, kedatangan kapal perang asing hanya untuk melakukan kunjungan ataupun latihan bersama, tanpa maksud intervensi kepentingan tertentu, termasuk mengenai eksplorasi sumber daya alam oleh pihak asing yang dalam waktu dekat banyak dilakukan re-kontrak.

"Mereka hanya melakukan kunjungan dan latihan bersama. Tak ada hubungan dengan sumber daya alam," kata Hartind di Jakarta, Senin (11/6).

Dirinya menambahkan, kedatangan kapal perang asing hingga saat ini juga tak menimbulkan ancaman ataupun berpotensi mengganggu kedaulatan NKRI. "Tidak mengancam," tandasnya.

Senada dengan Kapuskom, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksma Untung Surapati menegaskan kedatangan kapal perang asing bukan untuk pengamanan eksplorasi sumber daya alam. Kadispenal menjelaskan, kedatangan kapal perang asing hanya untuk latihan bersama dan kunjungan.

Seperti yang dilakukan tiga kapal perang jenis fregat berpeluru kendali milik Amerika yang merapat di Pulau Jawa. "Mereka melakukan latihan bersama Cooperation Afloat Readiness and Training tahun 2012 dengan TNI Angkatan laut," ucap Kadispenal.

Dia menambahkan TNI AL rencananya juga akan berkunjung ke Australia pada November mendatang untuk latihan bersama. "Adapun kapal perang asing lainnya memang banyak merapat ke Indonesia, seperti kapal perang Perancis, India, Pakistan tapi hanya singgah untuk kunjungan," katanya.

Sumber: InfoPublik

TNI AL Tambah Tiga Heli Bell 412EP

13 Juni 2012

Helikopter Bell 412 TNI AL (photo : Kaskus Militer)

Tiga Heli Bell Perkuat Puspenerbal

SIDOARJO, KOMPAS.com - Tiga helikopter jenis Bell-412 EP memperkuat jajaran Pusat Penerbangan Angkatan Laut, Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (13/6/2012). Helikopter ini akan difungsikan sebagai angkutan taktis dan dukungan logistik cepat.

"Helikopter ini akan memperkuat Skuadron 400 Wing Udara 1 dan Wing Udara 2," kata Komandan Puspenerbal, Laksamana Utama TNI Sugianto. Tiga helikopter tersebut diproduksi oleh Textron Kanada dan disempurnakan oleh PT Dirgantara.

Ketiga helikopter ini, kata Sugianto, memiliki kelebihan, yaitu antara lain sistem pilot otomatis. "Fitur ini penting karena terbang di atas laut lebih sulit," kata Sugianto.


Baca Juga :

Lanudal Juanda Tambah Tiga Heli
12 Juni 2012

SURYA Online, SURABAYA - Tiga Helikopter Bell 412 akan memperkuat jajaran TNI AL. Helikopter ditempatkan di Skuadron 400 Puspenerbal Juanda. "Tiga unit Helikopter ini akan datang besok siang di Shelter Suadron 400," jelas Kasi Renbang Puspenerbal Mayor Martin Daw, Senin (11/6/2012).

Menurutnya, helikopter itu merupakan helikopter pengangkut untuk pendaratan pasukan. Helikopter ini memiliki kemampuan angkut 10-15 personel serta mampu mengangkut beban sekitar tiga ton.

Meski berfungsi sebagai helikopter angkut militer, alutsista ini dapat dipersenjatai dengan senapan mesin untuk mendukung kegiatan operasi militer.

Helikopter ini juga merupakan helikopter generasi terakhir yang masuk jajaran Skuadron 400 Puspenerbal. Masuknya capung besi Bell 412 ini melengkapi jajaran pesawat udara di Puspenerbal menjadi 62 unit.

(Surya)

Rockwell Collins completes Sale of More Than 3,600 GPS Receivers and Related Equipment to Australian DoD

13 Juni 2012

Rockwell Collins DAGR/Defense Advanced GPS Receivers  (all photos : Rockwell Collins)

PARIS  – Rockwell Collins has completed the delivery of more than 1,200 Defense Advanced GPS Receivers (DAGRs), 97 MicroDAGRs and related equipment to the Australian Department of Defence, and recently signed a second contract for 2,400 DAGRs with deliveries scheduled for July.

“Through the efforts of our United States and Australian teams, we were able to meet exceptionally tight delivery time frames in order to increase customer support and meet immediate capability requirements,” said Nick Gibbs, managing director of Rockwell Collins Australia.



Primarily used by the U.S. Army, the DAGR is considered the standard for handheld military GPS position, navigation and situational awareness. The receiver provides precise timing to synchronize tactical radios for the digital battlespace and includes a graphical user interface that greatly enhances the soldier’s effectiveness and safety.

The MicroDAGR is the latest member of Rockwell Collins’ highly successful family of handheld GPS receivers. The smart-phone inspired MicroDAGR provides dismounted soldiers with real-time position, navigation, moving maps and timing information on a full-color touch screen display, and is small enough to be worn on the wrist, attached to a lanyard, or placed in a pocket. The receiver features L1/L2 frequency capability, utilizing military only secure GPS signals with anti-jamming and anti-spoofing capabilities. MicroDAGR is also equipped with the latest Selective Availability Anti-Spoofing Module (SAASM)-based anti-jamming software.

(Rocwell Collins)

Anggota DPR Mengkritisi Kontrak Kapal PKR 10514

13 Juni 2012


Kapal PKR-10514 rancangan Damen Schelde (image : Damen Schelde)

Kontrak di Kemenhan Perlu Ditinjau Ulang

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus (TB) Hasanudin mengungkapkan, kontrak Kemenhan dengan Director Naval Sale of Damen Schelde Naval Shipbuilding Evert Van Den Broek tentang pengadaan kapal perusak kawal rudal (PKR-10514), telah dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2012, namun dengan rincian detail kontrak yang banyak dipertanyakan. 

Kontrak yang dimaksud antara lain; Kapal PKR 10514 ternyata, akan dibangun di galangan kapal Belanda DAMEN dan bukan di PT PAL seperti yang telah direncanakan semula

"Dari nilai kontrak sebesar US$ 220 juta dollar (untuk harga sebuah PKR), Indonesia (PT PAL) hanya mendapat pekerjaan sebesar US$ 7 juta dollar saja (kurang dari 3 persen). Indonesia juga masih harus membayar biaya transfer of technology (TOT) sebesar US$ 1,5 juta dollar lagi," ungkap Tubagus, Rabu (13/6/2012).

Kapal PKR dan spesifikasinya rancangan Orrizonte Sistem Navali (image : PAL/Defense Studies)


"Kemudian, Combat System yang meliputi radar yang semula 3D (3 dimensi) menjadi 2D (2 dimensi) saja (standar sipil). Sementara Alutsista yang terpasang tidak lengkap. Tanpa peluru kendali, dan lainnya."

"Peralatan radio tidak menggunakan teknologi standar militer," tegasnya.

Dalam hal yang sama, kata Tubagus lagi, TNI AL ternyata juga telah ditawari kapal sejenis dari Itali , yang lebih lengkap , lebih murah dan memiliki nilai tambah terhadap kemajuan industri pertahanan dalam negri, khususnya PT PAL.

Misalnya, Orrizonte Sistem Navali (OSN) dari Italia yang juga telah mengajukan proposal lebih baik kepada TNI AL.



"Antara lain, OSN sanggup membangun seratus persen pembuatan PKR 10514 di Indonesia, bekerjasama dengan PT. PAL dengan local content minimal 30 persen dan siap melibatkan PT DI, Pindad dan Karakatau steel," katanya.

"Harga per unit,  katanya sudah termasuk ToT dan lain-lain. Jadi, tak perlu ada biaya tambahan, dan kapal pertama akan selesai dalam 34 bulan." katanya lagi.

Kapal PKR juga akan dilengkapi dengan persenjataan yang lebih lengkap dan modern, antara lain: Surface to surface missile,Torpedo Launcher System,Radar 3D, serta Sonar.

"Oleh karena itu, dalam masalah ini DPR akan mempertanyakan kontrak tersebut pada kesempatan pertama," ujar Tubagus Hasanuddin.

KRI Sultan Hasanuddin-366 Tiba di Lebanon


11 Juni 2012, Indonesia kembali mengirim sebuah kapal perangnya ke perairan Lebanon guna memperkuat misi perdamaian internasional UNIFIL di kawasan yang masih dalam status perang dengan Israel tersebut. Kali ini, Pemerintah RI mengirimkan Kapal Republik Indonesia (KRI) Sultan Hasanuddin-366 yang tiba di Pelabuhan Beirut pada Sabtu tengah hari waktu Lebanon (09/06).

Kapal perang dengan panjang keseluruhan mencapai lebih dari 90 meter ini diperkuat oleh 105 personil yang dipimpin Letnan Kolonel (P) Dato Rusman SN. Menurut rencana, KRI Sultan Hasanuddin akan melaksanakan tugas di perairan Lebanon selama enam bulan hingga Desember 2012.

Dubes RI untuk Lebanon, Dimas Samodra Rum, Komandan Kontingen Garuda, Atase Pertahanan RI, staf KBRI Beirut dan sejumlah anggota Kontingen Garuda di Lebanon menyambut kedatangan kapal canggih yang dimiliki Indonesia ini.

Kepada seluruh anggota kapal, Dubes RI menyambut gembira dan bangga dengan kehadiran misi perdamaian laut Indonesia di UNIFIL. Dubes juga mengharapkan KRI Sultan Hasanuddin dapat kembali mempertahankan prestasi cemerlang bangsa Indonesia di mata internasional seperti prestasi yang diraih oleh misi-misi kapal Indonesia sebelumnya.

“Partisipasi KRI Sultan Hasanuddin dalam misi perdamaian UNIFIL ini merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan Resolusi PBB nomor 1702 tentang perdamaian antara Lebanon dan Israel,” jelas Dubes RI.

“Saya juga mengharapkan agar nama baik Indonesia yang telah menjalankan misi dengan sukses sebelumnya dapat kembali dipertahankan oleh misi laut KRI Sultan Hasanuddin,” tekan Dubes Dimas Samodra Rum.

Lebih lanjut Dubes RI juga menyatakan kesiapan Kedutaan Besar RI di Lebanon untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugas KRI.

KRI Sultan Hasanuddin adalah sejenis kapal korvet di kelas Sigma (Ship Integrity Geometrical Modular Approach) yang dibuat pada tahun 2004 di Belanda dengan disain modern. Kapal ini mampu melaksanakan perang anti kapal selam,surveillance dan operasi anti kapal permukaan untuk mencegah infiltrasi dan agresi musuh.

Dari tahun 2008, Indonesia telah mengirimkan secara bergantian beberapa kapal perang di kelas yang sama (Sigma) untuk bertugas menjadi bagian dari Kontingen Garuda TNI di Lebanon. Kapal-kapal sebelumnya yang bertugas adalah KRI Diponegoro, KRI Frans Kaisiepo dan KRI Sultan Iskandar Muda.

Kapal Indonesia bersama dengan negara-negara lain seperti Jerman (3 kapal), Brazil (1 kapal), Bangladesh (2 kapal), Yunani (1 kapal) dan Turki (1 kapal) akan menjadi bagian dari MTF (Maritime Task Force) – UNIFIL.

Selain di wilayah perairan, Kontingen Garuda TNI yang saat ini memiliki hampir 1.500 personil juga mejadi kekuatan utama dalam misi perdamaian PBB yang berjumlah lebih kurang 13 ribu personil di wilayah perbatasan darat antara Lebanon dan Israel.

Sumber: KBRI Beirut

ST Kinetics and Paramount Group Announce Collaboration on Armoured Wheeled Vehicles

13 Juni 2012


ST Kinetics Terrex 8x8 (photo : Jane's)

ST Kinetics and Paramount Group today announced a strategic collaboration to market a family of high mobility armoured wheeled vehicles.  Under the agreement, the two companies will pool their expertise to jointly market, manufacture and support a family of protected wheeled vehicles.

ST Kinetics and Paramount Group recognise that modern conflicts demand highly protected wheeled vehicles with superb mobility that can increase the survivability of the crew and ensure mission success.  The collaboration, which brings together the strengths of these two companies, will address the market needs for such highly protected and vastly manoeuvrable vehicles. It will allow their respective customers to enjoy highly cost effective solutions through global best sourcing and localised through-life support.

Paramount Group Matador 4x4 (photo : Paramount)


Resulting from this collaboration is a comprehensive range of wheeled vehicles for military and homeland security applications.  These include ST Kinetics’ highly manoeuvrable and network-enabled TERREX 8x8 Armoured Personnel Carrier, and Paramount Group’s mine-protected and highly mobile MBOMBE 6x6 Armoured Fighting Vehicle, MAVERICK 4x4 Internal Security Vehicle, MARAUDER 4x4 Wheeled Troop Carrier and  MATADOR 4x4 Multi-role Mine Protected Vehicle.

"ST Kinetics and Paramount Group each has a proven track record in the design and development of land systems vehicles.  This partnership allows us to bring together the reputable products of Paramount Group with our capabilities in systems integration and manufacturing to offer cost effective protected mobility solutions to our customers.” ~ SEW Chee Jhuen, President, ST Kinetics

"Our collaboration with ST Kinetics represents an invaluable springboard into the Asia-Pacific region for Paramount Group.  We are both ambitious, innovative businesses which understand our customers’ needs and the changing demands of modern defence and peace-keeping.  Our in-region partnership means that we can be very quick to market and very quick to respond to customers’ changing needs. ”~ Ivor ICHIKOWITZ, Executive Chairman, Paramount Group