Tampilkan postingan dengan label Tank. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tank. Tampilkan semua postingan

SAF Takes Delivery of Buffel ARVs

31 Mei 2012

Baffel Armoured Recovery Vehicles (all photos : xtemujin)

The- Singapore Armed Forces (SAF) have received two batches of Rheinmetall Buffel (Buffalo) Armoured Recovery Vehicles (ARVs). IHS Jane's can reveal.

The ARV will be used to support the 66 Krauss Maffei Wegmann Leopard 2A4 Main Battle Tanks (MBTs) already in service with the SAF. Final deliveries of the ARVs were made in 2011.

Germanysupplied 96 Leopard 2A4 MBTs to Singapore: the remaining 30 were used for spares. The Leopards have replaced obsolete AMX-1 3 light tanks that are being phased out.

The SAF Buffel ARVs are based on refurbished Leopard 2 hulls, with work carried out at Rheinmetall facilities at Kasseland Kiel. They have the same capabilities a new production ARVs and are fully equipped with winches, a hydraulic crane on the right side of the hull and a dozer/stabilizer blade at the front.

While the Buffel ARV has been sold to Germany (75), Greece(12), the Netherlands (25), Spain (16), Sweden(14) and Switzerland(25), this is the first sale of refurbished platforms.

Canada, which is following Singaporeby ordering eight Buffel ARVs based on rebuilt Leopard 2 hulls, leased two Buffels from the German Army to support its Leopard 2 MBT deployment to Afghanistan. A Rheinmetall upgrade to these ARVs prior to their deploymentn included an enhance protection package and air conditioning.


The SAF are also looking to replace their M60 based Armoured Vehicle Launched Bridge (AVLBs) and M728 Combat Engineer Vehicles (CEVs).

It is understood that Singapore is the first customer for the Krauss-Maffei Wegmann developed Leopard 2 Leguan AVLB, which has full armour protection and can launch one 26 m or two 14 m bridges horizontally over the front of the hull. By comparison, the M60 AVLB is fitted with a 19.2 m long scissors bridge that can span a gap of up to 18.2 m.

Singaporeis also believed to be planning to replace the M728 CEV with a platform based on a modified Leopard 2 hull. One such contender could be the Kodiak Armoured Engineer Vehicle (AEV), which is in production in Switzerland after being developed as a private venture y RUAG Defence and Rheinmetall. The Kodiak has been sold to the Netherlands (10), Switzerland (12) and Sweden (six).

Another contender could be the Wisent 2 Leopard Support Vehicle, which was developed by German company FFG and is also based on the chassis Leopard 2. The AEV version of the Wisent has been sold to Canada.

(Jane’s)

30 Tank Leopard Jerman Siap ke Jakarta

22 Mei 2012

Tank Leopard 2A6 Angkatan Darat Jerman (photo : Valka)

TEMPO.CO, Pontianak - Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, mengatakan pada Oktober ini, sebanyak 30 tank jenis Leopard yang dipesan dari Jerman akan dikirim ke Jakarta.

“Awalnya tawaran datang dari Belanda dan Jerman, tetapi kita pilih Jerman karena lebih menjanjikan,” kata Pramono, di Markas Kodam XII/Tanjungpura, Selasa 22 Mei 2012, di Pontianak.

Sebanyak 30 unit tank ini, katanya, tinggal menunggu pihak Jerman untuk mengirimkannya ke Indonesia. Jenis yang akan dibeli adalah Leopard 2A6 yang merupakan hasil "retrofit 2A4" alias pengembangan teknologi terbaru karena cetak baru teknologi Leopard serupa sudah tidak diproduksi lagi.

Kelebihan memilih tawaran Jerman adalah dapat melakukan transfer of technology (TOT). Jerman juga menawarkan joint production untuk pembuatan beberapa bagian tank seberat 60 ton tersebut dengan menggandeng PT Pindad.

Masih terkait tank yang dibutuhkan TNI untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedianya di Kalimantan Barat akan ditempatkan pula satuan tank. Pramono mengatakan, saat ini di Kalimantan Barat hanya dilengkapi dengan light tank dan ke depannya akan ditingkatkan dengan tank untuk tempur. Satuan Kavaleri di Kalbar juga akan ditingkatkan dari Datasemen menjadi batalion penuh.

First Flight for ADF Abrams

14 Mei 2012

RAAF personnel direct an M1A1 Abrams tank onto the loading ramp of a C-17 at Darwin on May 11. The tank had to be secured in a precise location in order to allow the aircraft to remain balanced during flight. (photo : Aus DoD)

The RAAF has flown an M1A1 Abrams tank inside a C-17 airlifter for the first time.

The tank was flown from RAAF Base Darwin to the Capricornia region on May 11 to take part in exercise Hamel in the Shoalwater Bay Field Training Area.

The ADF said the flight emphasised a “key joint strategic capability” by bringing together Army and Air Force personnel.

Indonesia - Rusia Teken Kontrak Pembelian 37 Tank Amfibi


11 Mei 2012

Pembelian ini merupakan lanjutan dari tahun 2008 yang sudah dilakukan pembelian sebanyak 17 unit, dengan demikian jumlah total menjadi 54 unit (photo : citra persada)

Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan perwakilan JSC Rosoboronexport di Indonesia menandatangani kontrak pembelian 37 unit kendaraan tempur infanteri BMP-3F Seri 2 senilai 114 juta dollar Amerika, Jumat.

Penandatanganan kontrak ini diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan, Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan Kepala Perwakilan  Rosoboronexport, Vadim Varaksin.

“Pengadaan tank amfibi BMP 3F ini adalah lanjutan dari tahun 2008 yang sudah dilakukan sebanyak 17 unit. Khususnya, pengadaaan kali ini adalah untuk meningkatkan kemampuan teknologi,” ujar Ediwan.

Ke-17 unit tank BMP-3F Seri 2 itu sudah dioperasikan oleh Korps Marinir TNI AL sejak Desember 2010 dan dari segi teknologi, kendaraan tempur lapis baja ini dianggap sesuai dengan kebutuhan pertempuran asimetris.

“Kami berharap semua pengadaan peralatan ini dapat memebuhi kebutuhan TNI AL,” tambah Edwin.

Ediwan mengatakan bahwa pembelian ini menggunakan dana dari APBN 2011 dan kontrak mencakup pengadaan suku cadang dan pelatihan. Penandatangan kontrak ini juga melibatkan PT. Pindad yang  bertugas merawat tank-tank amfibi ini.

Menurut Varaksin, perundingan untuk pembelian itu sudah dimulai sejak Oktober tahun lalu dan berlangsung alot, namun pada akhirnya bisa dicapai kesepakatan yang baik untuk kedua belah  pihak.

Varaksin menambahkan sebagai pihak penjual, Rosoboronexport bangga bisa memenuhi kebutuhan alat utama sistem pertahanan (alutsista) untuk kebutuhan TNI AD dan TNI AL baik dari segi jumlah  kendaraan atau amunisi.

“Pengiriman tank amfibi itu akan dimulai pada bulan Juli tahun depan,”  ujar Varaksin, sambil menambahkan bahwa kontrak pengadaan kali ini tergolong istimewa.

“Kontrak ini sudah mengandung komponen transfer teknologi. Itu hal yang  sangat baik dan ini meletakkan dasar untuk hubungan kita ke depan,”  ujar Varaksin.

Kabinet Belanda Tetap Ingin Menjual Tank Leopard 2 ke Indonesia


08 Mei 2012

Di Belanda berlaku aturan bahwa transaksi alusista senilai di atas 2 juta euro harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari parlemen, dengan demikian kabinet harus mendapatkan persetujuan parlemen terlebih dahulu untuk transaksi penjualan Leopard dengan Indonesia senilai 213 juta dollar ini (photo : cssbl)

Transaksi Jual Beli Leopard Nyaris Tuntas

Dua media Belanda, Mediawatch dan harian De Volkskrant menyorot keputusan kabinet demisioner untuk menjual tank bekas jenis Leopard ke Indonesia. Demikian menurut beberapa sumber dari kalangan pemerintah Belanda pada harian De Volkskrant, yang juga menjadi rujukan Mediawatch.

Menurut Mediawatch, kabinet Belanda pada awalnya tidak mendukung transaksi ini. Tapi atas desakan Menteri Pertahanan Hans Hillen, akhirnya setuju juga. Menteri ini harus melakukan operasi penghematan anggaran dan sangat membutuhkan dana hasil penjualan senilai 200 juta euro.

Menurut De Volkskrant, operasi penghematan di departemen pertahanan memangkas anggaran sekitar satu miliar euro.

Selanjutnya De Volkskrant menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal mendukung transaksi ini. Argumennya, tidak ingin menyinggung perasaan kalangan pemerintahan di Jakarta. Dengan demikian, transaksi jual beli ini, dari sudut pandang kalangan pemerintahan, bisa dikatakan nyaris tuntas.

Namun, lain di kabinet, lain pula di parlemen. Kabinet Belanda harus melaporkan rencana jual beli ini pada parlemen.

Beberapa waktu lalu, melalui dukungan pada mosi Arjan al Fassed, dari partai Groenlinks (Kiri Hijau), mayoritas suara di parlemen Belanda juga menentang penjualan ini. Mereka menilai, transaksi ini bertentangan dengan kebijakan hak azasi manusia Belanda.

"Militer Indonesia melanggar hak azasi manusia. Dengan penjualan senjata ini, kabinet demisioner membantu pelanggaran tersebut," demikian Arjan al Fassed pada saat pengajuan mosi.

Alhasil, masih ada kemungkinan, parlemen Belanda akan melarang transaksi jual beli ini. Di Indonesia sendiri, demikian lanjut De Volkskrant, berbagai kalangan di DPR telah menyatakan tidak menyetujui pembelian senjata berat ini. Mereka menilai tank Leopard tidak cocok dengan kondisi geografi Indonesia.

Singkat kata, meskipun kabinet Belanda telah memutuskan bersedia menjual senjata berat ini pada Indonesia, masih belum pasti, apakah transaksi ini memang akan terjadi. Yang jelas, jika rencana ini batal, Jerman dan Rusia sudah siap untuk memasok tank buatan mereka pada Indonesia. Demikian Mediawatch dan De Volkskrant.

Jerman Beri Sinyal Setujui Jual Leopard

01 Mei 2012


Beberapa minggu yang lalu Kabinet Belanda telah menyetujui penjualan 80 Tank Leopard 2 ke Indonesia dengan nilai transaksi sekitar 200 juta Euro, namun untuk merealisasikannya dibutuhkan persetujuan dari parlemen yang masih timbul pro dan kontra (photo : Militaryphotos).

PEMERINTAH dan DPR ber­kukuh membeli tank Leo­pard 2A6. Setelah gagal membeli dari Belanda, pemerintah dan DPR kini beralih ke Jerman.

Anggota Komisi I DPR dari F-PG Yorris Raweyai saat dihubungi, kemarin, menjelaskan anggota dewan sempat mendatangi pabrik produsen tank seberat 60 ton itu saat berkunjung ke Muenchen, Jerman, baru-baru ini.

Rombongan yang mendatangi Jerman dipimpin Wakil Ketua Komisi I DPR Hayono Isman didampingi 12 anggota. Kami ingin mencari kepastian bagaimana teknis tank ini,” ujar Yoris.

Awalnya, pemerintah berencana membeli 100 tank bekas dari Belanda dengan nilai sekitar US$280 juta. Namun, rencana itu terkendala karena ada penolakan dari parlemen Belanda.
Dubes RI di Berlin Eddy Pratomo membenarkan dele­gasi anggota dewan sempat mengunjungi perusahaan produsen tank Leopard, Krauss-Maffei-Wegmann GmbH & Co KG (KMW).

Eddy menjelaskan, dele­gasi sempat berdialog dengan Presiden dan CEO KMW Frank Haun. Pada kesempatan tersebut, Komisi I DPR membicarakan penjajakan pembelian tank Leopard dan perjanjian alih teknologi sebagai bagian dari kontrak pembelian.

Selain itu, sambung Eddy, rombongan sempat bertemu juru bicara luar negeri fraksi CDU/CSU (koalisi partai berkuasa Jerman) Philipp Missfelder serta Ketua Komisi Pertahanan Susanne Kastner.

Anggota dewan juga, lanjut Eddy, sempat bertemu dengan Parliamentary State Secretary Hans-Joachim Otto, untuk meminta penjelasan tentang prosedur pemberian dan izin ekspor alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang menjadi wewenang kementerian tersebut.
Menurut Eddy, pihak Jerman menyatakan tidak melihat ada masalah untuk ekspor alutsista ke Indonesia. Jerman, menurut Eddy, bahkan akan meningkatkan kerja sama ekonomi dan industri strategis kedua negara.

Padahal, Eddy mengakui pihak Jerman menerapkan kebijakan restriktif terhadap ekspor alutsista ke Indonesia. Salah satu isu yang sering menjadi ganjalan adalah isu perlindungan hak asasi manusia.
“Penting bagi Indonesia untuk menjelaskan hal itu kepada Jerman,” ujarnya. (Che/Ant/P-1)

Komisi I Dukung Rencana TNI AD Beli Tank Leopard

28 April 2012


Tank Leopard 2A6 (image : Militaryphotos)

Senayan - Komisi I DPR RI sepakat untuk mendukung rencana TNI AD membeli tank Leopard produksi Jerman. Sebelumnya banyak anggota Komisi Pertahanan yang menolak rencana pembelian tank bekas pakai Belanda ini. Mereka menolak karena perangkat perang ini tak sesuai dengan kondisi geografi Indonesia dan alih teknologinya sulit direalisasikan oleh produsen.

Komisi I akan mengiyakan secara resmi rencana TNI AD ini dengan catatan, sepanjang tidak ada upaya politisasi dari pihak mana pun. Selain itu, pembelian tank tersebut harus dilakukan langsung ke produsen di Jerman.

"Dengan demikian, memungkinkan adanya alih teknologi dan kerja sama pemeliharaan antara produsen dan PT Pindad," ujar Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq kepada Jurnalparlemen.com, Jumat (27/4).

Menurut Mahfudz, pembelian langsung ke produsen tank Leopard di Jerman akan memungkinkan modifikasi sesuai kebutuhan Indonesia dan lebih efisien harganya.

Meskipun hampir semua anggotanya menyatakan dukungan, hingga kini Komisi DPR belum mengeluarkan keputusan resmi guna menyetujui rencana ini. Keputusan resmi akan dikeluarkan setelah anggaran untuk meng-goal-kan rencana ini dianggap sesuai. "Ya, Komisi I memang belum memutuskan persetujuan anggaran untuk pengadaan tank tersebut," ujar Wasekjen DPP PKS ini


(Jurnal Parlemen)

Brunei Interested in T-90MS MBT

20 April 2012

T-90MS Main Battle Tank (photo and images : Army News)

Brunei became interested in Russian air defense and marine equipment

KUALA LUMPUR (Malaysia)- RIA Novosti. One of the new possible importers of Russian weapons - Brunei - expressed interest in acquiring a Russian air defense (AD) and marine equipment, Deputy Director General of "Rosoboronexport" Nicholas Dimidyuk told reporters on Thursday.

"Brunei needs protection from air and sea. It's not just coastal defense complexes "Bal", but also high-speed boats ("Molniya" and "Mirazh"), which could hit targets at great distances," - he said on the results of defence exhibition DSA-2012.

Dimidyuk said that Brunei would also be interested in air defense systems "Buk" and "Tor." He stressed that the missile is being developed for the "Tor", not only can hit targets 10 kilometers away as now, but can reach up to 20 km.


The deputy head of "Rosoboronexport" added the Minister of Defence of Brunei became interested in the possibility of purchase of Russian T-90MS. Interactive presentation which was held specifically for the Brunei delegation.

According to him, Malaysia also interested in this tank. "After the presentation of the upgraded T-90MS, commander in chief of the armed forces of Malaysia has set the task to hold it (the presentation) for its staffs. They will watch and study, they observed a very high quality of Russian heavy armored vehicles," - said the deputy director.

He stressed that the characteristics of the T-90MS far beyond the capabilities of the Polish tank "Twardy," which is a modernization of the Soviet T-72 (formerly Malaysia bought 48 of these machines).

"We talked about their modernization," - said Dimidyuk. He pointed out that if there is agreement on the part of Polish, Russian specialists are ready to upgrade the tanks to the level of T-90.

(RIA Novosti)

Members of the Royal Thai Military Delegation to See Demo of Ukrainian Tank "Oplot"

21 Maret 2012

Oplot main battle tank (photo : Ukraina MoD)

On March 20, Royal Thai military delegation headed by the Chief of Royal Thai Army General Prayut Chan-O-Cha acquainted with Ukrainian main battle tank "Oplot".

Demo show was held at a military firing range of the 1st single tank brigade, stationed in Chernihiv.


Tank crew demonstrated the dynamic battle features andtechnology. In particular, tank carried practical shooting with a staff weapon "Oplot".

"I am convinced that Ukraine is a leading country in the world in tank body through construction. Striking evidence of this is a tank "Oplot" - a powerful, modern military machine", the Chief of Royal Thai ArmyGeneral Prayut Chan-O-Cha.

Vietnam will Upgrade 310 T-54 Tanks

13 Maret 2012

Upgraded T54/55M3 tank pictures (photos : ttvnol)

The armed forces will modernize Vietnam's 10 battalions of tanks T-54 (about 310 machines). These findings make users forum militaryphotos.net. Photos of the first modernized tank T-54/55M3 at number 153 can be found.


As the members of this forum, updated tank was heavy machine gun NSV 12.7 mm, 60 mm mortar/grenade launcher, and meteorological sensors MAWS6056B Idram-SA Switzerland (equivalent on Lecrerc) and German 1000 HP diesel engine.


In addition, armed with T-54/55M3 are L7 105-mm gun and coaxial machine gun PKT 7,62 mm. Upgraded tank mounted further strengthened the Israeli ERA Blazer, a Russian fire control system and the Ukrainian gerabox & transmission.


According to one of the members of the board, modernized tank under the number 153 was most likely made a few years ago and is now used for training of personnel. By assumption, the user, photos of the tank could be made in the training of the tank.

Prototype of upgraded T54/55 tank, those photo published in early 2010 (photo : Quansu)

According to open sources, as of 2010 armed with 850 Vietnam stood the Soviet T-54/55 medium tank production. In addition, the park ground troops in Vietnam has about 350 medium tanks T-59, is a modernized version of the T-54.

T-54/55 MBT which is still operated by Vietnam People's Army (photo : muare)

Tank T-54 was adopted by the Soviet Union in 1946. Since 1958, the tank was manufactured in the modernized T-55 modification. Deliveries T-54/55 tanks were Vietnam from 1970 to 1975 (the last years of Vietnam War).

(
Lenta)

Army Considers German Tank Offer May be Best Option

09 Maret 2012

Germany's Leopard MBT (photo : Militaryphotos)

The Indonesian Army revealed on Thursday that Germany’s offer of the Leopard 2A6 main battle tanks (MBTs) was much more interesting than those offered by the Netherlands.

“Germany’s offer is more promising in terms of filling in the gap. Besides, the Netherlands still has problem with its parliament [in terms of the deal],” Indonesian Military (TNI) chief of staff Gen. Pramono Edhie Wibowo said as quoted by Antara news agency on Thursday.

He said Germany not only offered the transfer-of-technology but also the possibility of joint production in which state-owned arms manufacturers PT Pindad could make some parts for the 60-ton tank.

The Germans, he said, even challenged the readiness of domestic defense industries because good preparation was needed to maintain high-technology systems and it took long time to master them.

“We cannot produce it [the MBT] in three years. The technology isn’t simple,” he said, admitting that the service would also buy the MBTs from Germany.

The Indonesian Army said it needed to modernize its weapons systems with MBTs because it only had light tanks such as the British-made Scorpion and French-made AMX13, which weighed 8 and 14 tons respectively.

Initially, Indonesia planned to buy German-made MBTs at a discounted price as the Dutch government was implementing harsh defense budget cutbacks that included disbanding its armored divisions in the wake of the economic downturn in Europe.

The plan was to buy 50 units of the 2A4 and another 50 units of the 2A6 variants of the MBT at a total price of US$280 including the cost of upgrading the A4 variant to the A6 standard.


Russian MBT T-90 (photo : Militaryphotos)

The plan, however, is reportedly on the brink of collapsing due to the Dutch parliament’s indecisive stance on the issue. The GreenLeft minority political party in the Dutch parliament voiced its concerns over selling the MBTs to Indonesia, claiming that there was a possibility of the MBTs being used to suppress human rights in Indonesia.

On Tuesday, Defense Deputy Minister Sjafrie Sjamsoeddin said the ministry had given the Dutch until the end of March to decide whether or not to sell its surplus Leopard MBTs, after which Indonesia would look for other sources.

Besides the Dutch and the German governments, Russia reportedly has offered its T90 tank to the Indonesian government, which already earmarked Rp 150 trillion (US$16.41 billion) until 2014 for modernizing its weaponry to meet the so-called minimum essential force (MEF). (sat/nvn)


(The Jakarta Post)

The Dutch Told to Decide on Leopard Sale by End of March

07 Maret 2012

Dutch's Leopard MBT (photo : Militaryphotos)

Indonesia has given the Netherlands a deadline to decide whether or not to sell its surplus Leopard main battle tanks (MBTs) after which Indonesia will look for other sources, a top defense official said Tuesday.

Defense Deputy Minister Sjafrie Sjamsoeddin said the ministry had given the Dutch until the end of March before deciding to buy the MBTs from other countries.

“We can buy the tanks directly from Germany, although the quantity might be different,” he told reporters at the Defense Ministry after a press conference on the results of a meeting of the Defence Industry Policy Committee (KKIP).

Initially, Indonesia had planned to buy the German-made MBT at a discounted price as the Dutch government was implementing harsh defense budget cutbacks that included disbanding its armored divisions in the wake of the economic downturn in Europe.

The plan was to buy 50 units of the 2A4 and another 50 units of the 2A6 variants of the MBT at a total price of US$280 including the costs to upgrade the A4 variant to the A6 standard.

The Indonesian Army said it needed to modernize its weapons systems with MBTs because it only had light tanks such as the British-made Scorpion and French-made AMX13 which weigh 8 tons and 14 tons respectively.

The Leopard weighs more than 60 tons leading to heavy criticism from lawmakers and NGOs who oppose the buying of the MBT, which is made by German firm Krauss-Maffei Wegmann Maschinenbau (KMW).

Deputy Defence Minister studied the possibility of locally assembling Sherpa tactical vehicle in Indonesia (photo : Bronco1978)

A minority party in the Dutch parliament, the Left Green, has also voiced its concerns at selling the MBTs to Indonesia taking note of what it claims is the possibility of the tanks being used to supress human rights in Indonesia.


Sjafrie has just returned from a tour of several European countries to discuss various aspects of defense cooperation.

In France, Sjafrie studied the possibility of locally assembling Sherpa light tactical, armored vehicles at state-owned arms manufacturer PT Pindad.


(The Jakarta Post)

The New Russian Main Battle Tank Prototype Armata will be Completed by 2013

19 Februari 2012

Future view of Russian main battle tank Armata (image : Army Recognition)

Russia will complete the first prototype of the new Armata main battle tank by 2013 and begin production and deliveries to the Russian Armed Forces in 2015, Defense Minister Anatoly Serdyukov and the CEO of tank manufacturer Uralvagonzavod Oleg Sienko told Prime Minister Vladimir Putin, the Lenta.ru news portal reported.

Uralvagonzavod and the military are testing the main components of the new tank. No other details were reported. Meanwhile, the Defense Ministry has signed a contract worth six billion rubles with Uralvagonzavod to upgrade 170 T-72 main battle tanks, to be carried out at a specially prepared facility in Omsk, Lenta.ru said.

Russian-made Black Eagle main battle tank. According to the Sverdlovsk "Regional Newspaper", the Russian military, so, in fact, refused to purchase T-90 tanks, has been repeatedly criticized by the Commander of Land Forces Alexander Postnikov and Chief of General Staff of Russian Armed Forces Nikolai Makarov. (photo : Army Recognition)

“The Russian armed forces will have a new main tank with fundamentally new characteristics, fully automated loading and separate crew compartment by 2015,” Lieutenant-General Yuri Kovalenko, former First Deputy Head of the Russian Defense Ministry’s Automotive Armor Directorate said last April.Kovalenko said work from other projects, including Object 195 and Black Eagle, will be incorporated in Armata's design.

Pembelian Tank Leopard sebelum 2014

16 Februari 2012

Tank Leopard 2 Angkatan Darat Belanda (photo : Militaryphotos)

Surabaya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo berharap pembelian 100 unit Tank Leopard dari Belanda dapat selesai sebelum 2014.

"Sampai sekarang masih tahap penjajakan dan belum berhenti. Tim yang kami bentuk masih membahasnya dan diharapkan sebelum 2014 sudah selesai," ujar Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo kepada wartawan di Surabaya, Rabu malam.

Ia mengaku, tim yang dipimpin Wakil KSAD Letjen TNI Budiman dalam rangka melihat dan mengadakan perkembangan negosiasi lanjutan. Hingga kini belum ada perubahan berarti dan masih menjadi tarik ulur di parlemen Belanda.

"Sekali lagi saya tegaskan, kalau Belanda menjual kami beli, tapi kalau tidak kami pergi. Tunggu saja perkembangan berikutnya," kata mantan Pangkostrad tersebut.

Pihaknya juga mengatakan saat ini Jerman juga sedang menjajaki dan menawari Indonesia. Menurut Pramono, tank buatan Jerman menjadi alternatif jika target awal tidak kesampaian.

"Memang ada tawaran dari Jerman. Hanya saja kami belum bersikap, tapi itu bisa dijadikan alternatif. Yang pasti sebelum 2014 sudah harus selesai," tutur mantan Danjen Kopassus tersebut.

Jika pembelian Tank Leopard yang alokasi anggarannya mencapai 280 Juta US Dollar berjalan mulus, diharapkan bisa menjadi prestasi serta menaikkan wibawa bangsa.

Sementara itu, alokasi anggaran dari pemerintah Indonesia untuk modernisasi peralatan TNI AD sebesar Rp14 triliun. Dana tersebut digunakan untuk sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) lainnya.

"Diantaranya pengadaan tambahan helikopter, PT Pindad yang menyiapkan anoa atau panser, serta alutsista lainnya. Bahkan Leopard ini hanya bagian kecil saja kok," tukas jenderal yang juga pernah menjabat Pangdam Siliwangi tersebut.

Khusus tahun ini, direncanakan pembelian meriam, rudal anti pesawat, peluncur roket multiras dan lainnya. Apalagi sekarang Indonesia masih tertinggal jauh daripada negeri lain seperti Malaysia maupun Thailand.

DPR Ajukan Tiga Klausul Pengadaan Tank Leopard

15 Februari 2012

Tank Leopard 2 Angkatan Darat Jerman (photo : Spiegel)

JAKARTA – Komisi I DPR menyatakan tidak menolak niat pemerintah untuk melakukan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) jenis tank. Namun, khusus untuk pengadaan tank jenis Leopard dari Belanda, Komisi I DPR mengajukan syarat tiga klausul.

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menyatakan, Komisi I DPR kemungkinan besar tidak akan menyetujui anggaran untuk pembelian tank Leopard bekas dari Belanda jika Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan TNI tidak bisa memenuhi klausul utama tersebut.

Klausul itu adalah secara teknis Indonesia membutuhkan tank jenis tempur berat itu, kemudian ada jaminan tidak akan ada embargo pemeliharaan dan suku cadang di masa mendatang.

Klausul selanjutnya, ada alih teknologi (transfer of technology) dalam pembelian tank Leopard tersebut. “Jika memang Mabes TNI tetap meminta Leopard bekas itu, Komisi I DPR harus diyakinkan secara teknis dan politis. Jika hal itu tidak dipenuhi oleh tim negosiasi Mabes TNI, lebih baik membeli yang baru kendati jumlahnya menjadi separuhnya,” ungkap Mahfudz di Jakarta kemarin.

Mahfudz menduga, Kemenhan dan Mabes TNI akan mati-matian berusaha untuk melancarkan rencana pembelian tank Leopard itu,termasuk melancarkan klausul yang diinginkan Komisi I DPR. Langkah ini dilakukan agar tidak ada benturan di kemudian hari. Karena itu, Kemenhan dan TNI harus menjajaki semuanya. “Semua klausul tersebut harus dipenuhi mengingat belanja alutsista setiap tahun selalu menelan anggaran negara yang besar,” tandasnya.

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengaku, tawaran tank Leopard sebenarnya bukan hanya dari Pemerintah Belanda, melainkan juga dari pemerintah Jerman. “Tawaran Belanda adalah tank bekas yang jika jadi dibeli oleh Indonesia akan di upgrade kemampuannya,” ungkap Sjafrie.

Sedangkan Leopard yang ditawarkan Jerman, ujarnya, adalah refurbishment. Artinya bukan tank bekas yang akan dibeli sebab Leopard asal Jerman ini sudah ditingkatkan lebih dulu kemampuannya.

TNI Lirik Tank T90 Rusia dan Tank Pindad Indonesia

30 Januari 2012

Tank T-90 buatan Rusia (photo : pic2fly)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki opsi alternatif untuk belanja alat perang. Mereka melirik tank T 90 buatan Rusia sebagai pilihan lain selain rencana membeli tank Leopard buatan Belanda.

"Iya, salah satu, tapi kan banyak sekali opsi," ujar Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono di gedung DPR, Jakarta, Senin(30/1/2012).

Menurut Panglima, PT Pindad beberapa waktu lalu juga sudah membuat rancangan tank menengah. TNI kata Panglima, juga akan mempertimbangkan tank buatan PT Pindad itu.

"Itu salah satu opsi juga, bisa kita pertimbangkan. Bagus sekali kalau bisa dalam negeri,"jelasnya.

Dalam pembelian tank lanjut Panglima ada aturannya, apabila TNI tidak bisa membeli dari luar negeri pihaknya mempertimbangkan dalam negeri.

"Kan ada aturannya. Begini, kalau bisa diproduksi dalam negeri, harus di dalam negeri. Kalau tidak bisa harus join production. Kalau tidak bisa baru beli dari luar negeri. Itu ada pedomannya. Harus kita ikuti saja,"pungkasnya.

(TribunNews)

Rencana Pembelian Tank Leopard Mungkin Berubah

27 Januari 2012

Tank Leopard 2 dirancang untuk mampu menyeberangi sungai (photo : Bundeswehr)

Jakarta, PelitaOnline -- PANGLIMA TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan, rencana pembelian Tank Leopard masih belum final. Menurutnya, masih ada opsi selain pembelian 100 tank bekas asal Belanda tersebut.

Seperti diketahui, Pemerintah RI sudah melakukan negosiasi dan membentuk tim dalam upaya pengadaan sekaligus penguatan alat utama sistem senjata NKRI.

"Tank itu belum final, kemungkinan masih ada opsi lain," kata Agus saat rehat Kapat Kerja dengan Komisi I DPR RI, Selasa (24/1).

Sementara, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengakui bahwa DPR terkesan masih belum begitu yakin dengan kemampuan tank tersebut.

Kendati demikian, Purnomo berjanji akan menjawab keraguan DPR terhadap kemampuan tank buatan Jerman itu dan kecocokannya dengan medan di wilayah NKRI.

"Nanti saya jelaskan bagaimana sebenarnya tank itu," kata Purnomo, seolah hendak meyakinkan.


Baca Juga :

Wamenhan: Jika Belanda Tak Mau Jual Leopard, Masih Ada Jerman
25 Januari 2011

Jurnas.com WAKIL Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan tidak khawatir dengan penolakan parlemen Belanda atas penjualan tank Leopard ke Indonesia. Menurutnya, jika memang Belanda tidak mau menjual, sudah ada negara lain yang juga menawarkan pada Indonesia. “Jerman sebagai negara produsen juga menawarkan pada Indonesia,” kata Sjafrie usai meninjau kesiapan produksi perdana PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (25/1).

Dikatakan Sjafrie, tawaran Belanda adalah tank bekas yang jika jadi dibeli oleh Indonesia akan diupgrade kemampuannya. Sedangkan Leopard yang ditawarkan Jerman adalah refurbishment, “Jadi bukan bekas, karena sudah ditingkatkan lebih dulu kemampuannya,” jelasnya.

Namun begitu, Sjafrie menegaskan Indonesia akan lebih diuntungkan dengan membeli pada Belanda. Dengan dana US$280 juta, Indonesia akan mendapat 100 unit tank Leopard. “Kalau di tempat lain tidak bisa. Dana itu kami alokasikan untuk 44 tank, tapi bisa mendapat 100 unit,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan penolakan yang muncul dari kalangan parlemen Belanda bukanlah sikap resmi parlemen maunpun Pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda sendiri telah mendesak kepastian Indonesia dalam membeli tank mereka.

Purnomo juga mengatakan, kebutuhan Indonesia sebenarnya pada main battle tank(MBT), bukan pada Leopard. Bisa saja MBT yang dibeli Indonesia bukan jenis Leopard. Sementara itu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan, Jerman yang juga menawarkan Leopard-nya akan segera melakukan pertemuan dengan Indonesia.

Pesanan 34 Tank BMP-3F akan Direalisasikan Tahun 2012

25 Januari 2012

Tank BMP-3F marinir TNI AL (photo : Menkav-1)

Pengembangan Armada RI Selesai 2014

JAKARTA - Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Soeparno mengatakan pengembangan Armada RI menjadi tiga Komando Wilayah Laut diharapkan selesai pada 2014. Pengembangan akan berjalan sesuai tahapan skala prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI AL hingga 2024.

"Masih dikaji dan jika perlu pengembangan Armada RI juga sejalan dengan pengembangan organisasi di TNI AU dan TNI AD sehingga kita bersama-sama," kata Kasal ketika dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (24/1).

Ditemui seusai membuka Rapat Pimpinan TNI AL 2012, Soeparno mengatakan pengembangan Armada RI menjadi tiga komando wilayah didasarkan pada luas wilayah perairan nasional yang cukup luas dan kondisi lingkungan strategis yang tengah berkembang.

Selain itu, tambah Kasal, pengembangan komando wilayah laut dari saat ini dua komando, Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim) menjadi tiga komando wilayah laut merupakan penjabaran dari renstra TNI AL hingga 2024 untuk mewujudkan TNI AL yang besar, kuat, dan profesional.

Terkait pergeseran fokus kekuatan Amerika Serikat ke Asia Pasifik, salah satunya dengan penempatan pasukan Marinirnya di Darwin yang berdampak meningkatnya pelayaran kapal-kapal militer asing, terutama melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia II dan III, Kasal menilai masih bisa diantisipasi dengan pengamanan oleh Koarmabar dan Koarmatim.

"Kekuatan di dua komando armada yang telah ada itu kan bisa dimobilisasi, sesuai kebutuhan. Dengan tercapainya kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Forces/MEF), maka semua bisa dikoordinasikan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat ancaman yang dihadapi dan perkembangan lingkungan strategis yang ada," kata Kasal menambahkan.

Tetapi, lanjut Soeparno, pihaknya berharap pengembangan armada tersebut dapat diselesaikan pada 2014. Direncanakan, Komando Wilayah Laut Barat akan berkedudukan di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), Komando Wilayah Tengah di Makassar (Sulawesi Selatan), dan Komando Wilayah Laut Timur berpusat di Sorong, Papua.

Dalam Rapat Pimpinan TNI AL 2012, dibahas beberapa agenda utama, yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan, pembinaan personel, kesejahteraan prajurit, dan reformasi birokrasi.

Sebelumnya, Kasal mengatakan Korps Marinir akan memiliki divisi baru, yakni Divisi III Sorong, Papua, pada tahun 2012 untuk melengkapi Divisi I (Pasmar-1) di Surabaya dan Divisi II (Pasmar-2) di Jakarta. "Embrionya sudah lama ada di Sorong, yakni satu batalyon di Papua, tapi nantinya akan ditingkatkan menjadi brigade dan akhirnya divisi," katanya.

Dengan begitu, pengamanan kawasan perbatasan Indonesia dan negara lain tidak akan ditambah karena sudah dianggap cukup. Apalagi Marinir memang bukan untuk pengamanan perbatasan laut. Selain itu, Korps Marinir juga akan menambah tank BMP-3 F sebanyak 54 unit tank dengan 34 tank baru akan direalisasikan pada tahun 2012, sedangkan sisanya menyusul.

"Ke-54 tank baru itu akan ditempatkan di wilayah barat dan timur dengan sebagian tank merupakan produksi dalam negeri. Yang jelas, kalau alat tempur kita bisa dibuat di dalam negeri, ya kita beli di sini," ujarnya. nsf/Ant/P-3

(Koran Jakarta)

DPR Setujui Pengadaan MBT

25 Januari 2012

Tank Leopard diangkut dengan pesawat C-17 (photo : DefenseIndustryDaily)

Tank Leopard Bekas Belanda Ditolak, DPR Setujui MBT

Jurnas.com MESKIPUN menolak pengadaan tank bekas Pemerintah Belanda jenis Leopard 2A6, DPR menegaskan menyetujui pengadaan main battle tank (MBT). DPR dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan serta TNI akan memperdalam kajian terhadap kebutuhan MBT ini.

"Untuk pengadaan MBT kami setuju. Tapi untuk detailnya perlu pembahasan. Kami senang ada dialog, karena mereka sebelumnya tidak terbuka dan kesannya sudah pasti akan membeli Leopard,” kata wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin usai raker Komisi I dengan Kementerian Pertahanan dan TNI di Jakarta, Selasa (24/1).

Dia menuturkan, penolakan DPR terhadap rencana pembelian tank Leopard bukan hanya atas pertimbangan kecocokan dengan wilayah geografis Indonesia, tapi juga pertimbangan rencana strategis (renstra), anggaran, dan ancaman.

Dalam raker tersebut terungkap kebutuhan TNI adalah pada MBT, bukan pada Leopard. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebutkan, MBT yang dibeli tidak harus Leopard asal memenuhi spesifikasi kebutuhan TNI sebagai pengguna. “Kami akan memperdalam semua aspek, karena jumlah uang belum disepakati dan TNI sendiri ternyata belum memutuskan pembelian Leopard,” imbuh Tubagus.

KSAD: Leopard Diharapkan Meningkatkan Kemampuan Industri Pertahanan Nasional

19 Januari 2012

Indonesia berencana membeli 50 2A6 dan 50 2A4. ToT yang akan dilakukan adalah upgrade 50 Leopard 2A4 menjadi tipe 2A6 sehingga jumlah seluruhnya menjadi 100 Leopard 2A6 (photo : Militaryphotos)

Jurnas.com PEMBELIAN tank berat atau Main Battle Tank (MBT) jenis Leopard milik militer Belanda diharapkan dapat menjadi sarana memeroleh teknologi pembuatan MBT. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo ini merupakan hal penting karena industri dalam negeri belum mampu memproduksi.

“Tank beratnya Indonesia belum mampu. Sehingga kami berharap ada harapan teknologi andai membeli tank berat. Dengan persyaratan TOT bisa mentransfer, sehingga Indonesia bisa membuat sendiri,” kata KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo usai Rapim TNI di Mabes TNI Jakarta, Rabu (18/1).

Menurutnya, kemampuan industri pertahanan nasional saat ini baru sampai pada retrovit tank tringan. Untuk tank sedang dan tank berat, KSAD menyatakan Indonesia belum mampu. “Sehingga kalau ada TOT, kami bisa kirim orang agar bisa meningkatkan kemampuan,” ujarnya.

Pengadaan MBT ini, tutur KSAD, bertujuan untuk menyamakan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) dengan negara lain, karena Indonesia telah tertinggal jauh. Di Asia Tenggara, negara tetangga sudah memiliki tank jenis ini seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Negara-negara tersebut, jelas KSAD, juga merupakan negara kepulauan seperti Indonesia sehingga alasan penolakan pembelian tank berat dengan alasan Indonesia negara kepulauan tidak tepat. “Jalannya sama, hutannya sama, kondisinya juga sama. Apakah struktur jalan kita tidak lebih baik dari negara itu,” imbuhnya.

Saat ini, lanjut KSAD, dukungan tank bagi TNI AD hanya jenis tank ringan. Tank ringan yang dimiliki saat ini diantaranya Scorpion, dan AMX 13 yang merupakan produk tahun 1950-an. “Kalau dilihat cukup lama kita tertinggal dalam teknologi tank. Padahal tank itu ada tiga kelas, ringan, sedang dan berat,” paparnya. Untuk tank AMX 13, TNI AD saat ini melakukan kerja sama dengan PT Pindad untuk meretrofit 13 unit tank tersebut.