Tampilkan postingan dengan label Kapal Support. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Support. Tampilkan semua postingan

Wamenhan Tinjau Pesanan Kapal Tanker ke-2 di PT. DKB


08 Mei 2012

Kapal tanker Angkatan Laut berukuran panjang 122m akan diselesaikan dalam 24 bulan, sedangkan LST akan dimodifikasi sehingga dapat membawa tank BMP3F dan Leopard 2 (photo : DMC)

Wamenhan Meninjau Proses Pembuatan Kapal BCM di Dok dan Perkapalan Kodja Bahari

Jakarta, DMC - Sehari setelah melakukan kunjungan kerja ke PT Anugrah Buana Marine untuk mengetahui sejauh mana proses pembuatan kapal Bantu Cair Minyak (BCM) Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Irjen Kemhan  Laksdya TNI Sumartono, Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Pejabat Mabes TNI dan Angkatan, Selasa (8/5), Mengunjungi PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, yang juga sedang  mengerjakan pembuatan kapal Bantu Cair Minyak  kedua untuk TNI AL.

Setibanya di PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Wamenhan beserta rombongan disambut  oleh Wakasal Laksdya TNI Marsetio dan Dirut PT. Dok dan Perkapalan Kodja Bahari Riri Syeried Jetta beserta staf langsung menyaksikan proses pengerjaan pemotongan baja sebagai material kapal BCM.

Usai melakukan kunjungan ke Galangan kapal II, Wamenhan menuju Aula PT.  Dok dan Perkapalan Kodja Bahari menerima penjelasan seputar proses penyelesaian pembuatan satu kapal BCM yang menggunakan material 100% local content dan direncanakan di bangun selama 24 bulan.

Kapal Landing Ship Tank

Selain mendapat penjelasan tentang pembuatan kapal BCM, Wamenhan juga mendapat penjelasan tentang rencana pembuatan dua kapal jenis Landing Ship Tank (LST) yang sudah ditandatangani kontraknya, namun masih dalam tahap rancang bangun, karena design awal kapal Landing Ship Tank dengan 354 ABK hanya dapat mengangkut kendaraan Tempur (Ranpur) jenis Tank BMP 3F, yang dimodifikasi menjadi kapal Landing Ship Tank yang juga dapat mengangkut tank jenis Leopard.

Sementara itu untuk jenis kapal BCM itu sendiri, memiliki spesifikasi panjang 122,40 m , lebar 16,50 m, memiliki kecepatan maksimal 18 knots dan dapat memuat bahan minyak cair sebanyak 5500 m3.

Adapun modifikasi ataupun perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pembuatan kapal, Wamenhan mengharapkan proses pembangunannya sesuai dengan target yang telah ditetapkan atau tidak melewati batas waktu tahun 2014.

(DMC)

TNI AL Pesan Kapal Tanker

30 April 2012


Kapal tanker ini akan selesai dalam 18 bulan dengan biaya Rp 160 Milyar (photo : Berita Cilegon)


Kapal Perang Dibuat di Bojonegara, 1 Kapal Seharga Rp 160 Miliar


BOJONEGARA, BCO – Bangsa Indonesia sudah mampu membuat kapal untuk kebutuhan berperang. Dan siapa menyangka kalau ternyata kapal perang yang dipesan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI ini dibuat di wilayah Provinsi Banten, tepatnya di wilayah Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Ini diketahui setelah, Kamis (26/4/12) pagi tadi, Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto, meresmikan pembuatan kapal perang jenis tangker pertama oleh PT Anugrah Buana Marine (ABM) Bojonegara.


Aslog Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto mengatakan, kepada Berita Cilegon Online (BCO) bahwa untuk membuat kapal tersebut dibutuhkan waktu selama 18 bulan (1,5 tahun), dengan kebutuhan dana lebih dari 160 miliar. “Sebelumnya kemenhan juga telah berhasil membuat kapal perang di beberapa wilayah, di antaranya di Batam, Suarabaya dan Jakarta. Kalau proyek pembuatan kapal (perang tangker-red) BCM ini berhasil, kita akan buat kapal perang di Banten, terlebih di sini (Banten-red) juga banyak bahan bakunya," ujar Sru.


Saat ini TNI AL tercatat mempunyai 5 kapal tanker yaitu : KRI Balikpapan 901, KRI Sambu 902, KRI Arun 903, KRI Sungai Gerong 906, dan KRI Sorong 911 (photo : TNI AL)


Dikatakan bahwa pembuatan kapal dilakukan di wilayah Indonesia merupakan bagian dari upaya untuk pemberdayaan sember daya manusia (SDM) lokal dalam menciptakan perangkat perang TNI. “SDM lokal sebenarnya sudah mampu menciptkan kapal-kapal perang. Akan tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Mulai dari sekarang kita manfaatkan SDM itu untuk membuat produk berkualitas di negeri sendiri," Sru menuturkan.


Dalam kesempatan yang sama, saat mendampingi Aslog Kasal Laksamana Muda TNI, Danlanal Banten Kolonel Laut (p) Agus Priyatna mengatakan, TNI AL memang saat ini sangat membutuhkan kapal BCM. Sebab, saat ini TNI AL di bagian barat hanya memiliki satu kapal BCM yang kondisinya sudah tua dan perlu diganti. “Kapal BCM  ini nantinya disiapkan untuk membantu kapal perang yang kehabisan bahan bakar di tengah laut,” ujar Agus seraya berhatap proyek pembuatan kapal itu sukses sehingga kapal perang terus bisa dibuat di wilayah Banten. 


Sementara itu, Direktur PT Anugrah Buana Marine (ABM) Bojonegara Nasrudin Umar menjelaskan bahwa sesuai desain, kapal tersebut akan dibuat dengan ukuran panjang 95,5, lebar meter, 17,5 meter dan  tinggi 9 meter dengan kapasitas tangker dapat mengangkut 5.000 matrik. Bahan baku berupa bajanya berasal dari PT Krakatau Steel (KS) yang nota bene Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di wilayah Kota Cilegon, Provinsi Banten, yang letaknya berdekatan dengan Bojonegara. “Kecepatan kapal sendiri dirancang hingga 14 sampai dengan 15 knot," Nasrudin menuturkan. (*)


(Berita Cilegon)

Handover of the Ocean Surveillance Ship

26 November 2011

Ocean surveillance ship named HSV-6613 Giáo Su Vien sĩ Tran Đai Nghĩa (all photos : QDND, ttvnol)

QĐND Online - in Danang, Song Thu Co. Ltd. (a member of the General Department of Defense Industry) held a ceremony to hand over the sea vessel surveillance called HSV-6613 Giáo Su Vien sĩ Tran Đai Nghĩa, Admiral Pham Ngoc Minh, Deputy Commander, Chief of Navy has attended.

HSV Tau - 6613 designed by the Damen Group (Netherlands) and constructed in the Song Thu Company contributions to overcoming the lack of equipment for research, survey, surveying the sea, all set chart warning waters of Vietnam, creating favorable conditions for exploration, exploitation, controlling and protection of marine resources.



This type of steel hull ships, unrestricted activity level, consistent with hydrographic features survey and marine survey measurements, meet standards and regulations for decentralization of shipbuilding steel shell of TCVN 6259/2003 Vietnam Register, Lloyd Register, as well as conventions and other regulations related to the survey ship, surveying the sea. The vessel line shape and drive systems for adaptive purposes, can be easily rotated even in narrow waters, storm strength on level 12.


The ship is powered by four diesel combination generators, two Azimuth propeller, a propeller nose with the equipment information, navigation, weapons and other modern devices. The scope of operation of the ship is 5000 nautical miles at an average speed of 10 knots.

The ship’s design meets capability allows continuous operation at sea for 60 days and nights. The basic specifications of the ship as follows: Length overall: 66.3 m, maximum width: 13.2 m, depth: 6.5 m, draft at full load 4m, full displacement : 1550 tonnes.

Ship HSV-6613 was officially started in July - 2008, ship was launched in October - 2010. Until this time used for training and sea-trials conducted by military service.

Kapal Auxiliary TLDM Bunga Mas Enam Terus Membawa Misi Melindungi Kapal-kapal Negara di Teluk Aden

09 Agustus 2011


Kapal Auxilary TLDM Bunga Mas Enam (photos : TLDM)



MISC Berhad dengan kerjasama Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dan Majlis Keselamatan Negara (MKN) hari ini telah melancarkan Kapal BUNGA MAS ENAM sebagai sebuah Kapal Auxiliary TLDM kedua bagi memperkukuhkan perjalanan Operasi FAJAR. Majlis pelancaran tersebut telah diadakan di limbungan Malaysia Marine and Heavy Engineering Sdn Bhd (MMHE), Pasir Gudang Johor dan dihadiri oleh Panglima Tentera Laut; YBhg Laksamana Tan Sri Abdul Aziz Hj Jaafar dan Presiden/Ketua Pegawai Eksekutif MISC Berhad; YBhg Datuk Nasarudin Md Idris.



BUNGA MAS ENAM, sebuah kapal kontena bersaiz 699TEUs, merupakan kapal dagang kedua yang didaftarkan di Malaysia yang telah diubahsuai dan dilengkapi dengan peralatan keselamatan bertujuan melindungi dan mengiringi kapal-kapal MISC yang membawa kepentingan negara di Perairan Teluk Aden dan perairan sekitarnya. Kerja-kerja pengubahsuaian telah dijalankan oleh MMHE (sebuah anak syarikat MISC) di limbungan kapalnya yang terletak di Pasir Gudang, Johor. Sebelum ini, BUNGA MAS LIMA, Kapal Auxiliary TLDM pertama telah dilancarkan pada 1 Jun 2009 dan kini sedang ditugaskan di perairan Teluk Aden untuk mengiringi kapal-kapal dagang milik MISC yang menggunakan laluan tersebut. Sejak pelancarannya, BUNGA MAS LIMA telah berjaya mengiringi sebanyak 172 kapal-kapal dagang MISC merentasi Teluk Aden dan kawasan perairan berhampiran.


Projek pengubahsuaian BUNGA MAS ENAM adalah tepat pada masanya memandangkan statistik dan laporan mengenai aktiviti-aktiviti perlanunan di kawasan Perairan Teluk Aden menunjukkan peningkatan dan menjadi agak serius sejak akhir-akhir ini. Malah kawasan aktiviti perlanunan ini telah pun menjangkau sehingga ke Lautan Hindi. BUNGA MAS ENAM, yang kini dikenali sebagai Kapal Auxiliary TLDM BUNGA MAS ENAM akan menyertai operasi di Teluk Aden bersama-sama dengan KapalAuxiliary TLDM BUNGA MAS LIMA bermula pada pertengahan bulan Ogos 2011.



Merujuk kepada perundangan antarabangsa, kapal auxiliary adalah tergolong dalam jenis-jenis kapal selain dari kumpulan kapal-kapal perang yang dimiliki atau di bawah kawalselia pentadbiran tentera. Ianya dioperasikan oleh sesebuah kerajaan dan diberi keistimewaan kuasa imuniti atau lebih dikenali sebagai sovereign immunity.





Kedua-dua Kapal AuxiliaryTLDM dianggotai oleh anggota-anggota yang terlatih, terdiri daripada anak-anak kapal MISC dan anggota tetap pasukan Angkatan Tentera Malaysia (ATM). Kesemua anak-anak kapal MISC ini diserap sebagai anggota Pasukan Simpanan Sukarela TLDM (PSSTLDM) dan telah menjalani latihan-latihan asas ketenteraan. Setiap anggota yang ditugaskan mempunyai bidang tugas dan kepakaran masing-masing. Anggota tetap ATM adalah terdiri daripada pasukan khas ketiga-tiga cabang perkhidmatan, Unit Udara TLDM dan kumpulan sokongan dari bahagian kesihatan dan pentadbiran tentera. Bidang tugas utama mereka ialah operasi khas dan tugas perlindungan keselamatan. Manakala, bidang tugas utama bagi anak-anak kapal MISC tertumpu kepada tugas-tugas pengemudian dan pengendalian kapal yang melibatkan aspek pandu arah, komunikasi, elektrikal dan mekanikal kapal.



Dengan adanya Kapal Auxiliary TLDM seperti BUNGA MAS LIMA dan BUNGA MAS ENAM ini, TLDM mampu melaksanakan pemantauan di luar lingkungan operasi beyond normal operating envelope secara optimum dan berhemah. Menerusi pengoperasian BUNGA MAS LIMA, TLDM telah berjaya menjimatkan kos operasi sebanyak RM 3 juta sebulan. Lebih signifikan lagi, perkongsian bijak antara TLDM dan MISC ini telah berjaya memberi perlindungan terhadap barangan dagangan negara yang bernilai berbillion ringgit yang melalui Perairan Teluk Aden. Projek BUNGA MAS LIMA juga telah berjaya menempatkan Angkatan Tentera Malaysia di tangga kedua dalam Pertandingan Anugerah Inovasi Perdana Menteri bagi tahun 2011.



Bagi MISC, pengubahsuaian kapal-kapal dagang milik syarikat kepada Kapal Auxiliary TLDM ini telah membuktikan komitmen pihak pengurusan di dalam memastikan keselamatan anak-anak kapal dan aset negara terjamin, terutamanya ketika melalui Perairan Teluk Aden dan kawasan perairan yang berhampiran. Dari sudut perniagaan pula, pengoperasian kapal-kapal auxiliary ini telah berjaya meningkatkan keyakinan dan kesetiaan para pelanggan terhadap perkhidmatan MISC dan syarikat ini terus menjadi pilihan utama mereka dalam memastikan kargo yang dibawa sampai ke destinasi dengan selamat. MISC merupakan syarikat perkapalan utama di dunia yang menggunakan kapal tanker LNG. Dari segi pemasaran, perolehan aset dan pendapatan, ia merupakan syarikat perkapalan keempat yang terbesar di dunia. MISC juga menduduki tangga keempat di dunia dalam pengoperasian Aframax tankers yang membawa barangan dagangan berupa petroleum.


Perkongsian strategik antara TLDM dan MISC telah berjaya melahirkan Pasukan Latihan Pegawai Simpanan (Laut) atau PALAPES (L) di Akademi Laut Malaysia (ALAM) dan Pasukan Simpanan Sukarela TLDM (PSSTLDM) yang mempunyai kepakaran tertentu. Untuk rekod, pengambilan pertama PALAPES (L) ALAM yang dirasmikan pada tahun lalu mempunyai seramai 29 orang pegawai. Manakala terdapat 45 orang pegawai dan 43 orang lain-lain pangkat PSSTLDM yang berkepakaran perkapalan menerusi Operasi FAJAR. Bagi TLDM, Kapal AuxiliaryTLDM ini merupakan satu komponen penting di dalam merealisasikan konsep HANRUH (Pertahanan Menyeluruh) yang terkandung di dalam Dasar Pertahanan Negara yang bertujuan untuk membuka peluang kepada lebih ramai sukarelawan yang berminat untuk mendalami ilmu kelautan, pertahanan dan keselamatan.



Maklumat Kapal Auxiliary TLDM BUNGA MAS ENAM

a. Owner - MISC Berhad

b. Port of Registry - Port Klang

c. Builder - Malaysian Shipyard and Engineering

d. Hull Number - 6

e. Date Launched - 1 Aug 96

f. Date of Delivery - 22 May 97

g. Type of Ship - 699 TEUS Container Carrier

h. Length - 132.8 meter

i. Breadth - 22.7 meter

j. Gross Tonnage - 8,957 tonnes

k. Net Tonnage - 3,158 tonnes

l. Main Engine - MDE Sulzer 5RTA52U

m. Speed - 17 knots

n. Cruising Range - 9,000 Nm

o. Tank Capacity:

(1) Heavy Fuel Oil Tank (used for cruising) - 540 tonnes

(2) Marine Diesel Oil Tank (used for generator) - 50 tonnes

(3) Cylinder Oil Tank - 11,000 ltrs

(4) Fresh Water Tank - 980 tonnes

p. Fresh water making system:

(1) Alfa Laval Evaporator

(2) Average daily making rate - 8 tonnes

q. Endurance - 21 days


(TLDM)

TNI AL Akan Beli Dua Kapal Survei

22 Juni 2011


KRI Dewa Kembar 932 (photo : Kaskus Militer)

Jakarta (ANTARA News) - TNI Angkatan Laut akan membeli dua kapal survei dan pemetaan atas dan bawah permukaan laut baik untuk kepentingan pertahanan dan militer maupun umum.

"Proses pengadaannya, kami sudah membuka lelang terbuka untuk pengadaan dua kapal itu," kata Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio di Jakarta, Rabu.

Ditemui usai membuka seminar nasional hidro-oseanografi, ia mengatakan, sudah ada beberapa negara yang menawarkan diri untuk membuat dua kapal tersebut.

"Sudah ada beberapa perusahaan dan negara yang menawarkan diri, namun belum kita putuskan yang jelas semua melalui proses lelang," katanya kepada ANTARA.

Tentang negara mana saja yang sudah tertarik untuk pengadaan dua kapal itu, Marsetio mengaku belum mendapatkan data rinci.

"Yang jelas sudah ada. Penambahan kapal survei dan pemetaan atas dan bawah permukaan laut itu sangat penting, untuk memaksimalkan kegiatan mendapatkan data hidrografi dan oseanografi ," ujarnya.

Marsetio menjelaskan posisi geografis Indonesia yang berada di persimpangan dua benua dan dua samudra memiliki konsekuensi tinggi.

Karena itu, lanjut Marsetio, perlu kegiatan survei dan pemetaan atas dan bawah permukaan laut yang memadai untuk mengetahui secara rinci kondisi, situasi dan apa yang terjadi di wilayah perairan nasional.

"Produk survei dan pemetaan yang berkualitas sesuai standar nasional tentu harus didukung wahana apung (kapal) survei dan pemetaan serta SDM yang memadai dan berkualitas pula," tuturnya.(*)


(Antara)

PHN Kaji, Ukur Struktur Laut Negara

22 Juni 2011

KD Perantau (photo : Secure Malaysia)

TENTERA Laut Diraja Malaysia (TLDM) bukan sekadar menjaga keselamatan dan kedaulatan perairan negara tetapi turut terlibat dengan tugas-tugas berkaitan hidrografi seperti mengukur kedalaman, bentuk dan morfologi laut, arah aliran ombak serta maklumat pasang surut air laut.
Tugas-tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada agensi di bawah TLDM iaitu Pusat Hidrografi Nasional (PHN).

Mungkin banyak pihak mempertikaikan keperluan tugas-tugas tersebut dilakukan tetapi hakikatnya ia penting dan amat diperlukan untuk tujuan pengukuran dan pelayaran.

Ketua Pengarah PHN, Datuk Zaaim Hasan berkata, peranan PHN tidak kurang pentingnya berbanding tugas anggota TLDM yang lain.

Malah katanya, tanggungjawab mereka lebih rumit kerana perlu teliti dengan setiap pengukuran yang dilakukan supaya tidak berlaku kesilapan yang boleh menyebabkan operasi pelayaran atau pemantauan di kawasan perairan negara terjejas.

“Setiap pengukuran perlu tepat. Kedalaman, bentuk lautan, kelajuan ombak, jadual pasang surut air laut, kesemuanya itu perlu diukur dengan teliti sebelum diterjemahkan dalam bentuk peta atau carta yang diguna pakai TLDM semasa pelayaran.

“Proses pengukuran meliputi keseluruhan kawasan perairan negara. Bayangkanlah keluasan laut yang perlu diukur dan kami tidak boleh melakukan kesilapan kerana khuatir boleh menyebabkan berlakunya kemalangan antara kapal yang melalui perairan negara.

“Proses pengukuran juga dijalankan secara berterusan. Kami tidak boleh kekal dengan ukuran yang sama bagi tempoh empat atau lima tahun kerana bentuk atau struktur muka bumi di dasar lautan sering berubah terutamanya apabila berlaku bencana seperti tsunami,” katanya ketika ditemui semasa sesi lawatan media ke PHN di Pulau Indah, Pelabuhan Klang baru-baru ini.

KD Mutiara 255 (photo : PBase)

Menurut Zaaim, penubuhan dan peranan PHN juga adalah selaras dengan dasar kerajaan untuk membangunkan sebuah Pusat Maklumat Infrastruktur Geospartial Marin (GIDC) di negara ini.
Beliau yakin hasrat untuk membangunkan pusat maklumat tersebut akan dapat direalisasikan dalam tempoh dua atau tiga tahun lagi.

“Kami optimis dengan pembangunan GIDC. Ia akan menjadi pusat pengumpulan serta penyimpanan maklumat marin terbesar di negara ini dan akan memudahkan penyaluran sebarang informasi kepada TLDM sekiranya diperlukan," jelasnya.

PHN juga katanya, ketika ini bercadang untuk menambah jumlah aset yang mereka miliki bagi memudah serta mempercepatkan tugasan mereka.

Katanya, setakat ini agensi itu mempunyai dua buah bot pengumpul hidrografi iaitu Kapal Diraja (KD) Mutiara dan KD Perantau.

“Tugas mengukur dan merekodkan struktur perairan negara mengambil masa yang agak lama. Berdasarkan jumlah aset yang dimiliki ketika ini, belum tentu kami mampu menyiapkan ukuran struktur perairan negara menjelang 2020.

“Jadi kami bercadang untuk menambah jumlah aset yang dimiliki supaya tugas-tugas pengukuran dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

New Navy Ship to Have 'Pirate Guns'

24 Mei 2011

HMNZS Endeavour (photo : NZ Navy)

The new ship to replace the navy's ageing tanker, Endeavour, could have some serious weaponry to fight off pirates. The 23-year-old Endeavour will be replaced with a new ship in 2018 at a cost of about $250 million.

Navy planners looking at the best ship to order said the new ship would at the least have .50-calibre machine guns and other measures to ward off pirates.

Endeavour was built on a commercial tanker design in Korea and modified for the navy as a fleet replenishment ship, which could refuel other ships at sea, carry stores and operate a helicopter.

However, it had no weapons on board other than 5.56mm Steyr assault rifles and pistols. The navy said it was looking at following global trends to give the new ship the ability to fight off pirates.

Commander Tony Hayes, the navy officer in charge of the acquisition programme, said as well as .50-calibre machine guns, they were also looking at a deck layout which would allow a mounting for a rapid-fire Phalanx Gatling gun similar to those fitted to the Anzac frigates, Te Kaha and Te Mana.

The 20mm, radar guided, close-in weapons system is used to ward off missile attacks, strike aircraft and fast inshore attack boats and could fire up to 4500 rounds a minute.

''We would consider in the design placement for such a thing. If you look at what the other major navies are doing, they are considering self defence weapons on these types of ships.''

Cdr Hayes said as more navies opted for more multi-role ships, including ships like HMNZS Canterbury and the Endeavour replacement, they did not have as many warships.

''These multi-role vessels are having to do more jobs and independently.''

''We would want appropriate anti-piracy measures.

Anti-piracy measures could include high pressure water systems, barbed wire and ''all sorts of attachments you will see on a lot of the major oil tankers.

''It is to physically to stop people climbing or putting grappling irons on the sides of ships.''

Endeavour will become non-compliant with International Maritime Organisation requirements in 2013 and be reclassified, with its cargo volume reduced.

Two years ago the navy spent about $2m closing off some of the tanks to effectively give it a double hull, reducing the capacity by 25 percent to about 5500 tonnes of fuel. From 2013 it would be limited to 5000 tonnes of fuel.

The replacement ship was likely to be more versatile than Endeavour but it would retain its main function as a fleet tanker.

''If budget permits and the base design permits we would like to see it with additional craneage, the ability to take a lot more containers and maybe support amphibious operations too.''

The ship would also be able to land the air force's new NH 90 helicopters and the navy's Seasprite helicopters and carry limited numbers of troops.

(Stuff)

TLDM Dijangka Dapat Kapal Tambahan Kedua September

18 Maret 2011

Kapal Bunga Mas 5 ketika berada di Oman. Kapal ini bertugas di Teluk Aden dibawah bendera TLDM untuk menjaga kapal-kapal dagang Malaysia dari serangan perompak (photo : Jerzy Nowak-VesselTracker)

KUALA LUMPUR – Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dijangka mendapat sebuah lagi kapal pengiring bagi melindungi keselamatan kapal-kapal dagang berkepentingan negara di perairan Teluk Aden pada September depan, kata Panglima Tentera Laut, Laksamana Tan Sri Abdul Aziz Jaafar.

Beliau berkata, pada dasarnya syarikat perkapalan, MISC Berhad telah meluluskan penugasan sebuah lagi kapal dagang untuk ditransformasikan sebagai kapal tambahan TLDM yang kedua.
"TLDM dan MISC masih berbincang termasuk menentukan konsep, bentuk dan ciri-ciri kapal kedua itu,” katanya di pejabatnya di sini hari ini.
Bunga Mas 5 merupakan kapal milik Malaysian International Shipping Corperation (MISC) yang dialih fungsikan sebagai auxillary fleet bagi TLDM sekaligus kapal markas bagi pasukan komando TLDM di Teluk Aden (photo : DeltaMarin, KLSReview)

"Kapal tambahan pertama iaitu Bunga Mas 5 mengambil masa tiga bulan untuk perbincangan awal dan tiga bulan lagi untuk diubah suai menjadi kapal bantuan TLDM.

"Justeru dengan pengalaman itu, anggaran paling lama untuk kita melihat cadangan itu direalisasikan ialah enam bulan dan saya percaya MISC Berhad telah pun membuat penilaian untuk penugasan kapal kedua tersebut,” katanya.

Navy Commence Operations in Moreton Bay

19 Januari 2011

HMAS Huon, the minehunter vessel of RAN (photo : RAN)

A Coastal Mine Hunter, HMAS Huon has commenced operations in Moreton Bay today as part of Operation Queensland Flood Assist. Fitted with sophisticated sonar equipment the ship will search for debris that poses a navigational hazard to shipping in Moreton Bay and the Brisbane River.

The mission, as requested by Emergency Management Queensland will be directed by a Maritime Task Group, established at Bulimba Barracks. Commander Maritime Task Group Commander Pete Tedman said proving the main shipping channels are clear of obstructions from the floods ultimately allows the recovery effort to proceed faster, rebuilding to accelerate, and restores vital economic activity for all of Queensland.
Huon class, view from the rear (photo : RAN)

“Our mission is to assist in making Moreton Bay safe for shipping. It is a large task and will take considerable time but our men and women are well trained to achieve it,” he said.

“The opportunity for Naval personnel to help out their fellow Australians will be rewarding professionally and personally, and we remain committed to completing all tasks requested by Emergency Management Queensland,” Commander Tedman said.

The Task Group includes headquarters personnel, Clearance Divers, a Deployable Geospatial Team and three Navy Fleet units: HMAS Huon and two Hydrographic Survey Motor Launches, HMA Ships Paluma and Shepparton arriving later today.

HMAS Shepparton, hydrographic survey ship (photo : RAN)

Defence continues to operate closely with and in support of, Queensland Emergency Services to provide personnel on the ground, subject matter expertise, planning, and coordination of ADF helicopters and aircraft as part of the response and as we move to restoration and recovery operations.

As part of Operation Queensland Flood Assist, ADF personnel have been undertaking a multitude of tasks including clearance of rubbish and assistance in road closures. The ADF commitment to Operation Queensland Flood Assist currently consists of about 1600 personnel spread between Brisbane, Rockhampton, Townsville, Amberley, Ipswich, Toowoomba, the Lockyer Valley, Theodore and St George.

ST Marine has been Selected by Australia for Converting HMAS Success to a Double Hull Vessel

08 Oktober 2010

Australian replenishment tanker HMAS Success (photo : Casey H. Kyhl)

Success to be double hulled in Singapore

Singapore-based shipyard ST Marine has been selected by Defence to convert the Royal Australian Navy tanker HMAS Success to a double hulled vessel.

Double hulling will give Success two complete layers of watertight hull surface, creating greater safety.

The conversion will take place in Singapore where the ship has a scheduled visit while on deployment in Asia.

International Maritime Organisation standards require fuel tankers to be double hulled as a method of preventing or reducing spills following the sinking of the MV Erika off the coast of France in 1999, resulting in one of the world's greatest environmental disasters.

Three elements contributed to ST Marine's winning tender: the company came in under budget; work of this type will never again be carried out in Australia; and no Australian company had ever undertaken this type of work.

The money saved on this project will be re-directed towards the priority repair and maintenance work required on HMAS Kanimbla and HMAS Manoora, for which a precautionary Operational Pause was recently initiated by the Chief of Navy. This work will occur concurrently at Garden Island, Sydney.The on-going repair and maintenance of Navy ships happens in Australia and will stay in Australia. This includes the regular and on-going repair and maintenance of HMAS Success.

This year Defence will spend approximately $79 million on ship repair and maintenance in the Sydney region. In 2011 Defence has budgeted to spend $81 million on ship repair and maintenance in the Sydney region.

Next year Defence will also issue tenders for five-year contracts for the repair and maintenance of Navy ships at Garden Island. This work will all occur in Australia and is worth about half a billion dollars over the five years.

HMAS Success was launched in Sydney in 1984 and is the largest ship built in Australia for the Royal Australian Navy and also the largest ever built in the port of Sydney.